Penyandang Disabilitas Berjuang Peroleh Haknya

170
Setia Adi Purwanta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Penyandang disabilitas terus memperjuangkan hak-haknya bisa terpenuhi. Sesuai undang-undang,  mereka mempunyai hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Hingga saat ini mereka banyak dianggap sebagai orang tidak berdaya. Padahal banyak sekali penyandang disabilitas yang mandiri dan berprestasi.

Hanya saja memang isu mengenai disabilitas kurang seksi atau kurang menarik diangkat di media massa. Banyak di antara mereka yang berprestasi tetapi tak pernah diangkat menjadi berita.

Hal itu disampaikan Setia Adi Purwanta dan Agoes Widhartono, pegiat di Handicap International (HI) yang konsen terhadap nasib para penyandang disabilitas.

Ditambah masukan dari para wartawan peserta Workshop Peliputan Isu Disabilitas untuk Jurnalis, Jumat (29/11/2017) di Yogyakarta, dia mengatakan HI serta LSM yang peduli penyandang disabilitas harus merangkul pihak lain termasuk media massa.

Tujuannya agar segala sesuatu mengenai disabilitas bisa terdengar gaungnya seluas-luasnya, bahkan sampai pada pengambil kebijakan. “Tulisan-tulisan itu seyogianya diviralkan sehingga tersebar luas,” kata salah seorang peserta.

Menurut Setia, pria yang kehilangan penglihatannya tetapi berwawasan luas itu, masyarakat juga perlu diedukasi. Tempatkan para disabilitas pada tempat yang seharusnya, bukan justru dijadikan obyek sehingga stigma miring tetap melekat. Apalagi menyembunyikan anggota keluarga penyandang disabiltas sehingga semakin tidak berdaya.

Baca Juga :  Sejumlah 26 Perguruan Tinggi Ikuti Purbalingga Campus Fair

Kurang seksinya isu difabel untuk diangkat jadi topik pemberitaan, menurut Agoes Widhartono misalnya, ketika atlet difabel Indonesia berhasil mendulang banyak medali emas dalam pekan olahraga paralimpic tingkat internasional ternyata sangat sepi dari pemberitaan. Berbeda misalnya atlet Asian Games yang berhasil meraih medali bisa menjadi trending topik.

Fasilitas  minim

Selain itu, fasilitas umum untuk para difabel pun masih sangat minim. Di Yogyakarta memang pernah dibangun fasilitas jalan untuk mereka. Tetapi orientasinya proyek bukan memenuhi kebutuhan kaum difabel.

Banyak fasilitas yang sedianya untuk difabel dan sudah dibangun sama sekali tidak berfungsi. Ini sangat berbeda dengan berbagai negara maju seperti di Australia yang masyarakatnya sudah sangat teredukasi menghormati kaum difabel.

Pemerintahan di sana pun mendukung dibangunnya fasilitas khusus yang memudahkan kaum difabel bergerak leluasa. Termasuk di kereta api, bus kota, toilet, mal dan sebagainya sehingga difabel sangat dimudahkan.

Baca Juga :  Nenek Renta Selamat dari Reruntuhan

Sementara kondisi di Yogya maupun di tanah air masih sangat jauh dari ideal. HI yang berpusat di Perancis telah bekerja di Indonesia sejak tahun 2005 untuk mendukung inisiatif kesehatan dan sosial yang berhubungan dengan disabilitas.

Organisasi ini bekerja sama dengan Kementerian Sosial, mengimplementasikan kegiatan yang memungkinkan penyandang disabilitas mendapat kesempatan lebih besar dalam pemenuhan hak, peningkatan martabat dan menjadi aktor dalam pembangunan.

Untuk itu HI meminta dukungan para jurnalis untuk menyebarluaskan informasi mengenai  hal ini. Karena besarnya pengaruh media massa terhadap perubahan mindset publik dan pemerintah menempatkan disabilitas dalam konteks yang benar.

Pria berambut panjang dikucir tersebut mengakui hal ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi harus dilakukan, walau dianalogkan  seperti  mendayung di sela-sela karang. Workshop dibuka dan ditutup oleh Singgih Purnomo, selaku Advocating  for Change Project Manager HI. (sol)