Perajin Genteng Jangan Seperti Penjual Soto

184
Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengukuhkan Sentra Industri Genteng Godean di Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan, Kamis (7/9). (bid jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Wakil Bupati Sleman, Hj Sri Muslimatun mengingatkan, agar perajin genteng memiliki standarisasi dalam hal kualitas dan produksi. Standarisasi ini penting, agar kualitas genteng terjaga dan tidak mengecewakan konsumen.

Hal ini disampaikan Sri Muslimatun, saat mengukuhkan  Sentra Industri Genteng Godean di Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan, Kamis (7/9). Pengukuhan tersebut merupakan pengukuhan terakhir dari lima pengukuhan sentra industri di Kabupaten Sleman pada periode III ini.

Sri Muslimatun menyampaikan bahwa para pelaku usaha genteng di Desa Margoluwih harus mempunyai manajemen yang baik. Menurutnya pelaku usaha genteng harus membuat perencanaan yang matang sebelum memulai proses produksi genteng.

Hal tersebut perlu dilakukan untuk menjaga mutu produk genteng di Desa Margoluwih.

“Jangan seperti manajemen tukang soto. Saya hari ini membuat soto satu kuali. Jika tamunya banyak akan saya tambah garamnya, gulanya, airnya. Pasti beda rasanya. Artinya, kita harus punya standar,” ungkap Sri Muslimatun.

Baca Juga :  Buat Games Sendiri ? Cuma Butuh 30 Menit

Dikatakan, pengukuhan tersebut bertujuan untuk mengorganisir para pelaku usaha genteng yang ada di Desa Margoluwih. Menurutnya dengan seperti itu, pelaku usaha genteng akan lebih mudah mencari solusi terkait masalah yang dihadapi secara bersama-sama.

“Gunanya disentrakan ini agar semua pengusaha genteng bisa bersatu. Jangan dipasarkan sendiri-sendiri,” kata Sri Muslimatun.

Dikatakan pula, bahwa dengan disentrakannya industri genteng tersebut akan membuat usaha masyarakat Desa Margoluwih tersebut semakin kuat.

“Seperti lidi, kalau satu yang susah digunakan, gampang patah. Tapi jika lidi-lidi itu disatukan maka akan kuat dan bisa untuk digunakan,” lanjutnya.

Sementara Kepala Desa Margoluwih Sunaryo mengungkapkan, jumlah pengusaha genteng di Desa Marguluwih mengalami penyusutan.

Menurut Sunaryo, pada tahun 2007 jumlah pengusaha genteng di Desa Margoluwih mencapai 200 orang. Namun para pengusaha tersebut banyak yang telah beralih ke profesi lain. Salah satu penyebabnya, adalah adanya persaingan yang kurang sehat antar pengusaha genteng di Desa Margoluwih.

Baca Juga :  “Wauu, Besar Sekali Gajahnya...”

“Ini karena ada perusak dari warga kita sendiri. Mereka mendatangkan genteng dari daerah lain yang harganya lebih murah,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Sri Muslimatun menegaskan bahwa pengukuhan ini salah satunya bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya hal semacam itu. Dengan bersatunya semua pengusaha genteng di Desa Margoluwih, maka akan ada kesamaan sikap antar pengusaha genteng.

Sri Muslimatun juga mengatakan bahwa para pengusaha genteng di Desa Margoluwih harus selalu mempertahankan mutu genteng. Namun, lanjutnya, genteng tersebut harus dijual dengan harga yang terjangkau.

“Buat apa kita beli yang murah tapi kualitasnya tidak bagus. Maka kita harus mempertahankan kualitas genteng kita, tapi dengan harga yang terjangkau,” tuturnya. (Bid Jalasutra/SM)