Perbedaan Indah Desa Pagerharja di Kamis Putih

837
Ilustrasi. (Pendoa Sion)

KORANBERNAS.ID–Desa Pagerharja Samigaluh Kulonprogo Kamis (29/03/2018) bertepatan dengan Kamis Putih nampak sedikit berbeda dengan hari-hari biasa.

Ketika keluarga umat Katholik melaksanakan ibadah di gereja, rumah mereka yang kosong dijaga beberapa pemuda. Para pemuda ini sebagian besar adalah umat Islam.

Seperti di daerah lain,warga Pagerharja  menganut agama yang berbeda beda. Namun di sini perbedaan menjadi sesuatu yang indah.

Bowo Pristiyanta, salah seorang warga Pagerharja Samigaluh menuturkan, pada hari Kamis (29/03/2018) terjadi sebuah aksi spontanitas yang luar biasa.

Sejumlah pemuda yang sebagian besar muslim secara sukarela mengadakan kegiatan berkeliling kampung.  Mereka secara khusus  menjaga rumah-rumah warga yang beragama Katholik yang kosong, karena  sedang ditinggal mengikuti Perayaan Misa Kamis Putih di Gereja yang berlangsung dari petang hingga tengah malam.

Baca Juga :  Bupati Sleman Resmikan Student Park STTNAS Yogyakarta

Aksi menjaga keamanan itu muncul secara spontan dan menyebar di hampir seluruh pedukuhan yang ada umat Katholiknya.

“Aksi itu bukan karena sedang ada suasana genting. Tapi sebuah upaya antisipasi sabagai perwujudan empati sosial dan toleransi yang keluar dari nurani para kaum muda itu. Panggilan jiwa untuk saling menjaga dan saling melindungi  terhadap sesama warga,”ujar Siswadi warga Plono Pagerharja.

Energi persaudaraan yang menjadi nafas asli Nusantara, yaitu nafas parsaudaraan sejati masih terpatri sangat kuat sehingga terekspresikan dalam sebuah aksi.  Sebuah ekspresi dan perwujudan spiritualitas hidup. Melayani yang membutuhkan pelayanan, membantu yang membutuhkan bantuan serta melindungi yang membutuhkan perlindungan. Sebuah gerakan berbasis ketulusan yang indah dan menenteramkan.

Baca Juga :  Sikomen Mudahkan Provider Lacak Zonasi Menara

Andre salah seorang pemuda menyatakan sangat bangga dan respek dengan kawan kawannya tersebut.

“Sebuah solidaritas yang sangat menyejukkan. Ini persaudaraan yang tanpa pamrih. Ketika kami tengah beribadah di gereja,  kawan-kawan mengamankan rumah kami yang kosong dari berbagai kemungkinan yang tidak kita inginkan,” ujar Andre.

Menurut Bowo, aksi ini karena di sana ada kegiatan yang dilakukan bersama seluruh umat yang berbeda.

“Dari berbaurnya warga maka semangat saling membantu dan menolong dapat dipupuk menjadi makin indah,”  imbuhnya.(SM)