Perempuan Perajin Batik pun Alih Profesi

533
Perajin batik tulis di Desa Jemur, Kecamatan  Pejagoan Kebumen, Senin (02/10/2017) menggarap  batik pesanan pemilik modal. (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Sebagian perempuan perajin batik tulis kini beralih profesi menjadi asisten rumah tangga. Alasannya sederhana, upah yang mereka terima sulit diharapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin banyak.

Kenyataan itu paling tidak terlihat di  Sentra  Industri Batik Tulis Desa Jemur Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Tepat di Hari Batik Nasional, Senin 2 Oktober 2017, koranbernas.id sengaja melihat dari dekat kehidupan perempuan perajin batik tulis.

Dari tangan-tangan  terampil dan ketelitian mereka, batik tulis dijual di outlet pemilik modal, bisa laku beberapa  kali lipat. Artinya, keuntungan paling banyak dinikmati pemilik modal.

“Pembatik di sini  hanya  buruh. Mereka bekerja nyanting, upahnya diterima jika sudah  selesai satu kain,“ kata Siti Nurjanah (37), Ketua Kelompok Perajin Batik Tulis Kenanga.

Baca Juga :  Angin Barat, Gelaran JAS Digeser Februari

Pembatik biasanya datang ke pemilik modal di desa lain, meminta pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan sebagian besar hanya nyanting atau menggambar batik dengan malam cair. Besarnya upah per kain batik tergantung rumit tidaknya motif.

Motif kasaran seperti bunga bunga, ongkos nyantingnya paling tinggi Rp 200.000. Bisa selesai sepekan. Ongkos nyanting motif alusan seperti  batik Sirikit  atau  Sekar Jagat, bisa sampai 700.000 per kain.

Sebenarnya nyanting batik kasaran dan alusan penghasilan  rata-rata per hari sama. Makin rumit motif makin lama pengerjaanya. “Ini ongkosnya Rp 700.000,  motif Pisang Bali campur Sekar Jagat kain sutera, sudah hampir sebulan,“  kata Marhati (37), sambil menunjukkan batik yang masih dia garap, pesanan pengusaha batik di Jogja.

Baca Juga :  Bulog Harus Agresif

Siti Nurjanah berharap ada perhatian pemerintah, sehingga dirinya dan pembatik lain tidak hanya sebagai pembatik saja.

Mereka membutuhkan modal usaha dan pasar yang cukup. Tidak adanya modal dan pasar, menjadi  penyebab mereka memilih tetap menjadi  buruh pembatik tulis. (sol)