Perlunya Antivirus terhadap Virus Hoax

180

BAGAIMANA jadinya jika sebuah perangkat elektronik seperti komputer terserang virus? Pasti akan menyebabkan beberapa fungsi internal komputer terganggu, dan lebih berbahaya lagi jika file-file penting rusak atau tercuri. Hal ini tentu akan sangat menggangu para pengguna, demikian pula halnya dengan berita hoax.

Berita bohong atau yang dikenal dengan berita hoax sama halnya seperti virus yang terdapat di dalam perangkat komputer, berbahaya bahkan mematikan bagi masyarakat era digital. Berkembangnya media sosial dan media daring sebagai penyedia informasi baru dan cepat, memberikan pertanyaan lain soal kebenaran berita yang tersaji. Terlebih, pada era serba internet beragam informasi dengan mudah dapat diakses dari mana saja dan kapan saja tanpa tahu sumbernya. Akibatnya, bermunculan beragam media yang menyediakan informasi tak sesuai fakta atau hoax.

Berdasarkan data yang dirilis Statista, diperkirakan setidaknya 30 persen pengguna facebook dan twitter melihat berita hoax lebih dari satu kali setiap hari. Media sosial dan media “abal-abal” pun menjadi lahan paling subur untuk pertumbuhan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya ini.

Demikianlah, virus ini menyusup masuk ke dalam kehidupan masyarakat, menyebarkan ujaran kebencian hingga melakukan penipuan. Akibat yang dihasilkan seperti permusuhan, pertikaian, perpecahan, pengambilan keputusan tanpa dalil kebenaran, dan tentunya pembodohan.

Baca Juga :  Trotoar, Menjadi Polemik atau Solusi?

Contohnya, kasus “Hoax Sokal” yang menggemparkan dunia cendekiawan pada tahun 1996. Social Text, jurnal ternama di Amerika Serikat, mempublikasikan paper berjudul Transgressing the Boundaries : Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity hasil pemikiran dari Alan Sokal, Profesor Fisika di New York Univerity dan Profersor Matematika di University College London. Beberapa minggu kemudian, Alan Sokal menerbitkan esai di Lingua Franca yang isinya adalah mengonfirmasi bahwa apa yang ia tulis di Social Text adalah kebohongan belaka. Dalam esai tersebut ia menyebutkan bahwa tujuannya membuat paper tersebut adalah apakah sesuatu yang mustahil akan tetap dapat diterima hanya karena terkesan bagus dan sejalan dengan pra-konsepsi ideologi para editor jurnal.

Indonesia sendiri tidak luput dengan beragam kasus berita palsu yang hampir memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih, indonesia adalah negara kaya akan keberagaman suku, budaya dan agama yang pasti rentan pertikaian. Bahkan saat ini hoax semakin sering bermunculan menjelang pemilu, memprovokasi dan mempengaruhi, sehingga terjadi perpecahan antara dua kubu tertentu.

Lalu bagaimana menemukan anti virus yang ampuh menangkal virus-virus berita hoax? Hal ini menjadi salah satu tugas penting pemerintah dalam menemukan pencegah terbaik yang mampu menghentikan “sang pembuat onar media”. Keterlibatan masyarakat yang cerdas bermedia juga dibutuhkan. Tanpa kesadaran penuh, kita akan sulit menghentikan virus yang bisa saja suatu hari nanti mengancam kebhinekaan bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Pekan Raya Mahasiswa Pascasarjana Jadi Terobosan Baru

Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi saat menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Ambon pada 2017 lalu, ia memilki keyakinan, permasalahan ini justru akan semakin mendewasakan kita, mematangkan, dan menjadikan kita tahan uji. Presiden juga menghimbau masyarakat untuk memperhatikan perjuangan media massa arus utama yang terus berjuang agar tetap eksis, di tengah kondisi media sosial yang masif.

Ke depan, masyarakat boleh saling bahu-membahu dalam meredam berita hoax, sehingga pada masa mendatang, saat kita mengakses media seperti, facebook, twitter dan yang lainnya kita terbebas dari informasi menyesatkan. Bukankah indah rasanya jika informasi yang dikonsumsi sehari-hari berasal dari media yang akurat dan isinya dapat dipertanggungjawabkan. Harapan besar dilekatkan kepada para jurnalis, untuk tetap menjaga keakuratan sebuah berita yang layak dikonsumsi khalayak luas. **

Agustina Titin
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “VETERAN” Yogyakarta