Pernah Dilarang Anggota Pasukan Perdamaian PBB jadi Pengemudi Bentor

200
Di tempat ini, depan Pasar Wonokriyo, Gombong, Paimin mangkal sejak tahun 1975. (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Sosok Paimin (60) warga Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, sosok yang banyak dikenal pedagang di Pasar Wonokriyo Gombong. Ya, pengemudi becak motor (bentor) buatan bengkel lokal Kebumen ini dikenal para pedagang dan pemilik ruko di pasar tersebut, sejak tahun 1975. Saban hari, Paimin memang mangkal di pasar yang baru-baru ini terbakar.

Bapak dua anak ini, pertama kali ketemu koranbernas.id, Kamis (14/09/2017) ditengah liputan kebakaran pasar itu. Sosok yang masih tegap ini berkisah, awalnya ia sebagai tukang becak kayuh, hingga akhirnya menjadi  pengemudi bentor.

Banyak cerita dari sosok yang ulet ini, dalam membimbing dua anaknya. Salah seorang diantaranya sekarang menjadi anggota pasukan perdamaian PBB di Sudan Selatan, Afrika.

Baca Juga :  Siap-siap, Kebumen Bakal Jadi Pengekspor Sidat

“Anak saya sekarang sedang bertugas di Afrika,  Sudan,“ kata Paimin bangga.

Tak jauh dari lokasinya mangkal, istrinya membantu mencari nafkah untuk hidup berdua. Istrinya berjualan makanan dan minuman. Dagangannya  tidak banyak. Lapaknya nempel di sebuah ruko di pasar itu. Sebagai pengemudi bentor, Paimin nampak tidak ngoyo mencari penumpang.

“Anak saya yang di Afrika, tidak membolehkan saya jadi tukang becak. Katanya sudah tua kasihan. Tiap  bulan anak saya kirim uang, ditransfer. Saya dipegangi kartu ATM,“ kata Paimin sambil menyebut nominal kiriman uang anaknya tiap  bulan yang lebih dari Upah Minimum Kabupaten  Kebumen.

Dari sosok Paimin, diperoleh informasi, harga-harga alih kelola ruko, kios dan los di pasar yang dibangun investor. Dia mendengar, nilai alih kelola atau penjualan ruko, kios dan los dengan status hak guna bangunan (HGB).

Baca Juga :  Warga Miskin Kebanjiran Bantuan Sosial

Harga alih kelola HGB berakhir 2025 ini, bisa mencapai Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar untuk ruko. Sedangkan kios bisa mencapai Rp 100 jutaan dan  los puluhan juta rupiah.

Ya itu lah sosok Paimin. Karena pekerjaannya, banyak pengetahuan dan kenalan yang jumlahnya mungkin tidak terhingga. Sekarang bersama istrinya nampak sangat menikmati hidup. Keduanya merasa tentram dengan kehidupannya sekarang, sehingga tidak ngoyo mencari nafkah bersama istrinya.

Anak keduanya yang menjadi anggota Batalyon 433 Kostrad Lintas Udara di Makasar, menjadi  bagian  riwayat hidupnya, yang  tidak gampang.(SM)