Pertama di Indonesia, Polri Jaring Calon Anggota ke Daerah

144
Peserta Diklat Tunas Unggul Handayani pada pembukaan diklat di Kantor Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD), Gunungkidul, Senin (30/10/2017). (St. Aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri menegaskan, selama hampir dua tahun terakhir di Polda DIY tidak ada pengaduan mengenai penipuan permintaan uang saat seleksi masuk anggota Polri.

“Sekitar tiga tahun lalu di DIY masih ditemukan orang menipu. Sudah ditindaklanjuti, tahun kemarin saya tidak menerima laporan,” kata Dofiri ditemui usai membuka Diklat Tunas Unggul Handayani di Kantor Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD), Gunungkidul, Senin (30/10/2017).

Tidak ada laporan mengenai penipuan berkedok masuk anggota polisi, diantaranya karena Polda  mengembangkan jemput bola ke daerah untuk memperoleh kualitas sumber daya manusia unggul sebelum ikut seleksi.

Disinggung mengenai aksi penipuan yang terjadi baru-baru ini di sekitar Jawa Tengah, sejauh ini belum ada korban dari wilayah DIY. Pihaknya pun menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait masuk anggota Polri gratis.

Dia mengaku sebagai kapolda tidak bisa mengikuti proses seleksi. Yang dia tahu mengenai hasil seleksi yang sudah diselesaikan oleh panitia seleksi. Bahkan, peserta bisa mengetahui langsung hasil tes saat itu juga. Masyarakat diimbau untuk mempersiapkan fisik, mental dan akademik. “Jangan sampai percaya bujuk rayu masuk polisi bisa begini-begini, tidak mungkin,” tandasnya.

Baca Juga :  Pastikan Natal dan Tahun Baru Aman

Karo Dalpers SDM Mabes Polri Brigjen Polisi Sudarsono menambahkan, diklat Tunas Unggul Handayani atas kerjasama Polda DIY dan Pemda Gunungkidul merupakan pertama di Indonesia, dan akan dikembangkan ke polda lainnya.

Hal ini sebagai salah satu upaya polisi proaktif dalam rekruitmen anggota dengan cara jemput bola ke daerah.

“Hal ini akan dikembangkan seluruh polda. Ini upaya kita menjaring anak di wilayah perbatasan, pegunungan pesisir dan sebagianya. Kita bekerjasama dengan pemerintah daerah,” ucapnya.

Polisi akan menyasar di wilayah perkotaan, akan dilatih sehingga yang terpilih memiliki berkualitas, tidak akan gugur saat tahap awal seleksi seperti karena kondisi fisik.

“Kita juga akan menghilangkan image jadi polisi itu harus membayar, kita yakinkan lagi ini tidak ada,” tandasnya.

Baca Juga :  Bus Pariwisata Hantam Truk

Sudarsono mengatakan pihaknya menindak tegas seluruh orang yang terlibat penipuan yang mengatasnamakan masuk Polri harus membayar dengan nominal tertentu.

“Kita menindak banyak, kaitan penyimpangan yang dilakukan oleh panitia, ataupun orang diluar panitia yang justru memanfaatkan situasi seperti ini,” katanya.

Perlu diketahui, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, dan Polda DIY meneken nota kesepakatan bersama atau MoU dalam bidang pembinaan sumber daya manusia dan pemeliharaan keamanan ketertiban masyarakat di Gunungkidul pada 3 Oktober lalu.

“Ada sekitar 167 pendaftar, dan sudah dilakukan seleksi diperoleh 40 orang siswa yang terdiri dari 28 pria dan 12 orang wanita,”kata Kepala Disdikpora Gunungkidul Bahron Rosyid.

Nantinya mereka akan dilatih selama beberapa bulan dan akan diantarkan untuk mendaftar polisi. Namun demikian belum ada jaminan pasti masuk. “Setiap siswa yang didiklat belum tentu masuk, tetapi kita berusaha menyiapkan siswa unggulan, sehingga diharapkan bisa masuk seleksi Polri,” tuturnya. (SM)