Perumahan di Semarang Atas Ini Pun Langganan Banjir

4958
Banjir di Perum Dinar Puri Dinar Mas, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang Kota Semarang. (Bekti Maharani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Hujan deras yang turun berhari-hari di Kota Semarang,  kini tidak hanya menjadi momok masyarakat di wilayah bawah tapi juga warga di Semarang atas.  Karena Semarang terkenal dengan wilayah atas dan bawah.

Maka lagu “Semarang Kaline Banjir”, penggalan lirik lagu berjudul “Jangkrik Genggong”, menjadi gambaran buruk yang nyata bagi Kota Semarang. Lagu yang dibawakan Ratu Keroncong, Waljinah ini seperti menjadi idiom riil setiap musim hujan.

Kali ini tidak hanya kawasan bawah yaitu di wilayah Kedungmundu, tapi juga di kawasan atas seperti  wilayah Perum Puri Dinar Indah,  kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang terkena banjir. Bahkan di kawasan ini, saat banjir ketinggian air bisa mencapai 65 cm.

Banjir di Perum Puri Dinar Indah, setinggi pinggang orang dewasa. (Bekti Maharani/koranbernas.id)

Empat tahun terakhir, warga perumahan tersebut, khususnya yang tinggal di RT 6 RW 26, selalui dihantui bencana banjir. Setiap kali hujan datang, warga was-was, bersiap mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Tak terkecuali saat hujan deras turun pada Jumat (09/02/2018) sekitar pukul 13.30 WIB hingga sore. Hujan mengguyur selama satu jam, ketinggian genangan air sudah mencapai 65 Cm.

“Ya kondisinya memang begitu mbak. Kami harus siap-siap mengungsi. Setidaknya mengamankan barang-barang elektronik dan barang penting lainnya agar tidak terendam banjir,” tutur Winarto (53) warga RT 6 RW 26.

Banjir di RT 4 RW 26 Perum Puri Dinar Indah rutin terjadi sejak empat tahun terakhir. “Mulai terjadi sejak 2013 akhir, setiap musim hujan dating pasti banjir,” ujar dia.

Penyebabnya, air buangan dari perumahan tak bisa mengalir ke Sungai Pengkol. Malah seiring bertambahnya debit air sungai lantaran hujan dan gelontoran air dari hulu di Ungaran, air sungai masuk ke perumahan.

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Tembalang, Agus Suryanto yang memantau langsung di lapangan menyatakan, kemungkinan banjir terjadi berkali-kali karena dimungkinkan pengembang tidak memperhatikan sistem pembuangan dan  geografis perumahan.

“Perumahan itu dulunya merupakan area tangkapan air dari kawasan perumahan di atasnya. Di sisi lain, pengembang juga tidak memperhatikan jarak antara sungai dengan pemukiman warga. Jarak sungai dengan perumahan hanya sekitar enam meter, padahal idealnya minimal 15 meter,” ungkap Agus.

Sebagai langkah antisipasi i, aparat kelurahan dan kecamatan selalu memantau ketinggian permukaan air Sungai Pengkol.

Jika ada tanda-tanda naik drastis mereka langsung berkoordinasi penjaga pintu air di Kelurahan Sendangmulyo, kelurahan terdekat dari Kelurahan Meteseh.

“Seperti sekarang ini, ketika air sungai naik dan genangan air sudah muncul di perumahan, kami minta petugas jaga untuk membuka pintu air. Sehingga permukaan air sungai bisa turun dan akhirnya air di perumahan bisa keluar,” terangnya.

Antisipasi lain adalah dengan menyiapkan langkah darurat bersama BPBD Kota Semarang. Titik evakuasi dan kebutuhan logistik warga disiapkan jika genangan air makin tinggi.

“Kondisi ini seandainya pintu air sudah dibuka namun permukaan air tidak kunjung surut. Artinya, hujannya memang lama dan gelontoran air dari Ungaran terus bertambah yang berimbas pada genangan air di perumahan,” tambahnya.

Banjir terparah terjadi pada musim hujan 2017 lalu. Air Sungai Pengkol meluap, menyerupai air bah masuk ke Perumahan Puri Dinar Indah. “Droping logistik langsung kami lakukan. Juga mendirikan posko bantuan,” katanya. (SM)