Pesantren Sering Jadi Pintu Masuk Radikalisme

143
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan paparannya pada Halaqah Santri Nusantara bertajuk “Penguatan Wawasan Kebangsaan Dan Moderasi Islam Untuk Generasi Milenial” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (28/3/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Santri berperan sangat penting dalam memerangi radikalism. Sebab swalah satu pintu masuk radkalisme adalah dunia pendidikan, termasuk pesantren.

“Generasi muslim saat ini memiliki kewajiban merawat keislaman dan keindonesiaan secara bersama-sama,” ujar Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin saat berbicara pada Halaqah Santri Nusantara bertajuk “Penguatan Wawasan Kebangsaan Dan Moderasi Islam Untuk Generasi Milenial” di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (28/3/2018).

Menurut Menag, masalah radikalisme masih dianggap sebagai ancaman laten di Indonesia. Untuk itu pemerintah berupaya mengajak dunia pesantren untuk menjaga keislaman nusantara yang memiliki spirit rahmatan lilalamin atau kedamaian universal.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenag melalui pemberian beasiswa bagi para santri. Kali ini sebanyak 290 satri dari berbagai pondok pesantren se Indonesia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S1 ke beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Beasiswa merupakan bagian dari program umum Kementerian Agama meningkatkan kualitas para santri dan menjauhkan dari ajaran radikal yang belakangan ini terus mengancam.

Baca Juga :  BPD Harus Awasi Kinerja Lurah

“Kami akan terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai barometer keislaman dunia,” ujarnya.

Lukman Hakim menambahkan, kampus-kampus yang dipilih dalam program ini dinilai berkontribusi mewujudkan pendidikan Islam yang ramah di segala macam disiplin ilmu.

Beberapa Perguruan Tinggi yang bekerjasama dengan Kemenag dalam program ini diantaranya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Selain mendapat biaya perkuliahan, para santri yang lolos seleksi PBSB ini nantinya akan mendapat insentif bulanan serta dana pembinaan,” jelasnya.

Sementara Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Ahmad Zayadi mengatakan, program ini merupakan bentuk afirmasi kepada santri untuk mendapatkan percepatan mobilitas sosial.

Baca Juga :  Camat Dilatih Wujudkan Kota Tanpa Kumuh

“Ini instrumen agar santri lebih siap menyongsong masa depan,” ujarnya.

Kuota beasiswa PBSB tahun ini berjumlah 290 orang yang menerima beasiswa di 14 perguruan tinggi. Sejak dibuka pada 2005 hingga 2017, santri yang tercatat mendapatkan program beasiswa tersebut mencapai 4.276 orang.

Para penerima beasiswa ini diwajibkan melakukan pengabdian mengajar di pesantren dan lembaga agama di dalam dan luar negeri. Sebanyak 160 diantara mereka sedang berada di luar negeri menyemai keislaman yang damai.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi MA Phd, menambahkan, program ini terbukti berhasil menyemai santri di berbagai perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri. Program tersebut signifikan memperkuat Islam moderat di dunia.

“Islam nusantara saat ini berperan penting dalam kampanye Islam inklusif di dunia,” imbuhnya.(yve)