Peserta Asian Youth Day Belajar Kebhinekaan di FKT

Tari tradisional dipentaskan menyambut peserta  event Asian Youth, Jumat (04/08/2017), di Demangreja, Sentolo.(sri widodo/harianbernas.id)

191

KORANBERNAS.ID–Rombongan anak anak muda yang tergabung dalam  Asian Youth Day (AYD) dari negara-negara Asia, Jumat (04/08/2017) ikut menghadiri Festival Kesenian Tradisional yang digelar Orang Muda Katholik (OMK) di lapangan Demangreja Sentolo.

Rombongan yang hadir berasal dari 19 negara. FKT sendiri menampilkan berbagai seni tradisional. Selain Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, acara ini juga dihadiri Uskup dari Bangladesh, Filipina, Argentina, serta Uskup dari Padang, dan Medan.

Ketua Panitia FKT ke-9, FX Adeng Sucipto menjelaskan, ada delapan kelompok penampil yang menyajikan pertunjukan dalam event tahunan ini. Yakni dari Bonoharjo, Boro, Nanggulan, dua penampil lokal, serta dua penampil dari luar Kulonprogo yakni dari Malang Jawa Timur dan dari Klepu Sleman.

Baca Juga :  Kejurda Minim Peserta, PODSI Keluhkan Sulit Cari Atlet

Setiap kelompok rata-rata terdiri dari 50-70 orang, dan diberi waktu untuk tampil selama 45 menit.

“Seni yang ditampilkan kebanyakan sendra tari. Tapi ada juga yang menampilkan ketoprak yakni dari Boro (Kalibawang). Kami selalu mengundang satu atau dua penampil dari luar Kulonprogo untuk berpartisipasi,” katanya.

Dikatakan oleh Adeng, FKT diharapkan bisa mempererat persatuan masyarakat dan selalu menjunjung tinggi kebhinekaan serta kebersamaan. FKT ke depan juga diharapkan tetap eksis.

“Kegiatan ini  sarana untuk kita srawung, berkomunikasi, dan membuktikan bahwa  kebhinekaan yang ada di Kulonprogo berjalan baik.   Kita ingin menunjukkan kebhinekaan ini ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Eka Yuliyanti, salah satu penari dari rombongan Malang, mengaku keikutsertaan dalam FKT ini merupakan yang kedua kali.

Baca Juga :  Angkasa Pura Tanggapi Laporan ke ORI

“Ini keren, bisa jadi wadah kawula muda berkarya. Menghindari perilaku-perilaku negatif. Ini yang kedua kami ikut even ini,” katanya.

Dari  Keuskupan Malang menampilkan kesenian gandrung  Banyuwangi berjudul “Senyum Sang Marsan”. Bercerita tentang salah satu penari laki-laki Banyuwangi pada jaman penjajahan Belanda, Marsan yang berjuang memerdekakan Indonesia melalui tari.(sm)