Peserta JKN Sehat Bantu Yang Sakit

181
Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Umum dan Komunikasi Publik, BPJS Kesehatan Kedeputian Jateng dan DIY Abdul Azis saat menyampaikan capaian kinerja, Selasa (19/12/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Prinsip gotong royong dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus mengkampanyekan peserta JKN yang sehat membantu peserta yang sakit. Kesadaran gotong royong perlu terus ditumbuhkan oleh media, karena masih ada peserta JKN yang berpotensi menunggak iuran.

Masalah itu mengemuka pada Media Gathering yang diselenggarakan BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Solo, Selasa (19/12/2017) dan Rabu (20/12/2017). Media gathering yang diikuti jurnalis media cetak, online, dan elektronik di Jateng dan DIY itu digelar untuk lebih meningkatkan peran media dalam penyebarluasan program JKN dan mencari masukan penyelenggaraan JKN di Jateng dan DIY.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Kedeputian Jateng dan DIY, dr Aris Jatmiko berharap media agar terus mengkampanyekan prinsip gotong royong. Dengan prinsip itu, peserta JKN yang sehat, agar terus membantu peserta JKN yang sakit.

“Kesadaran sebagian peserta JKN, masih perlu ditumbuhkan agar prinsip gotong royong menjadi bagian dari cara peserta JKN yang sehat membantu peserta yang sakit,” paparnya.

Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Kedeputian Jateng dan DIY Abdul Azis mengatakan ada kelompok peserta JKN yang berpotensi menunggak iuran kepesertaan di Jateng dan DIY. Hingga 1 Desember 2017, ada 27. 613.423 orang peserta JKN. Sebanyak 3.203.725 orang peserta JKN merupakan peserta JKN mandiri. Kelompok peserta JKN ini yang sebagian berpotensi menunggak iuran kepesertaan BPJS Kesehatan.

Masalah lain yang bisa timbul dalam hal pelayanan rujukan, disebabkan ratio peserta JKN dengan jumlah tempat tidur yang tersedia di rumah sakit rujukan mitra BPJS Kesehatan. Di Jateng dan DIY, pada periode yang sama ada 17.039 tempat tidur kelas 3, 7.494 tempat tidur kelas 2, serta 5547 tempat tidur untuk kelas 1. Tempat tidur VIP ada 5743 buah, tempat tidur untuk VVIP ada 517 tempat tidur.

Dengan ratio peserta JKN kelas 3, dengan jumlah tempat tidur kelas 3 yang kurang ideal, sangat bisa terjadi antrean peserta JKN mendapat pelayanan rujukan di rumah sakit. Sehingga kabar kamar penuh, benar benar ada, karena ratio dan jumlah tempat tidur yang tidak sebanding. Dalam kondisi normal pun, tidak ada wabah antrean masuk rawat inap di kelas 3 bisa terjadi. (yve)