Pesona Jagalan, Serasa Kembali ke Masa Kerajaan

259
Camat Banguntapan Drs Fatoni didampingi Lurah Jagalan Gono Santoso mengunjungi kompleks Makam Raja Mataram dan Masjid Mataram Islam Kotagede yang menjadi daya tarik wisata dan telah dibuat paket Jagalan Tlisih. (sari wijaya/koran bernas.id)

KORANBERNAS.ID — Banguntapan  merupakan salah satu  dari 17 kecamatan di Kabupaten Bantul. Kecamatan ini memiliki delapan desa yakni Desa Banguntapan, Desa Baturetno, Desa Singosaren, Desa Jagalan, Desa Tamanan, Desa Wirokerten, Desa Potorono serta Desa Jambidan.

Adapun batasnya di sebelah utara Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, sebelah Timur  dengan  Kecamatan Piyungan, sebelah Selatan dengan Kecamatan Pleret dan sebelah barat dengan  Kecamatan Sewon.

Kecamatan yang kini dipimpin Camat Drs Fatoni tersebut menyimpan beragam potensi baik potensi seni, budaya, ekonomi, wisata, kerajinan dan  potensi lainnya. Salah satu yang sedang digencarkan adalah Jagalan Tlisih.

Dinamakan tlisih karena memiliki makna menelisik atau mengetahui asal muasal  menapaki jejak masa lampau di Jagalan. Sebenarnya, Jagalan Tlisih sudah diluncurkan sejak lama, namun baru setahun terakhir di bawah kepemimpinan Lurah Desa Gono Santoso, Jagalan Tlisih digairahkan kembali sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya dan penggerak ekonomi masyarakat setempat.

“Jagalan Tlisih adalah upaya kami warga Desa Jagalan untuk melestarikan kampung pusaka melalui kegiatan telusur wisata budaya,” kata Gono didampingi Camat Banguntapan Drs Fatoni kepada koranbernas di lokasi wisata sejarah Masjid Gedhe Mataram Desa Jagalan, beberapa waktu lalu.

Di Jagalan Tlisih, wisatawan atau rombongan wisatawan yang datang akan diminta mengenakan baju adat jawa. Untuk keperluan tersebut, Pemerintah Desa Jagalan telah berkomunikasi dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta ataupun Keraton Surakarta untuk keperluan meminjam baju Jawa seandainya ada rombongan wisatawan datang.

Setelah itu, dengan dipandu guide pengunjung akan mulai melakukan kegiatan jalan kaki mulai kompleks Balai Desa Jagalan menyusuri jalan perkampungan yang sangat kental nuansa Jawa kuno. Memang di desa ini banyak ditemukan bangunan rumah Joglo Jawa sesuai  pakem. Usianya sudah ratusan tahun.

Sembari menikmati keindahan masa lalu, wisatawan juga bisa mampir dan praktik membuat makanan khas tradisional seperti kipo yang sangat terkenal dan hanya ada di wilayah Kotagede termasuk Jagalan. Makanan ini berbahan tepung ketan yang dalamnya berisi parutan kelapa dan gula merah.

Wisata religi

Wisatawan juga bisa belajar membuat kerajinan perak untuk kemudian hasilnya dibawa pulang oleh masing-masing wisatawan.  Setelah itu bisa melakukan wisata religi ke Masjid Gedhe Mataram Kotagede, masjid  tertua di Yogyakarta.

Masjid ini dibangun pada  tahun 1587 Masehi oleh Panembahan Senopati Sutowijaya dan berada di  Dusun Sayangan RT 04 Desa Jagalan. Selama ini memang masjid  berarsitektur Jawa kuno tersebut banyak sekali didatangi wisatawan untuk melakukan wisata sejarah sekaligus beribadah.

Baca Juga :  Desa Lakukan Pendataan dan Investarisasi Makam

Halaman masjid yang luas, ditambah tanaman sawo kecik dan beringin serta bedug besar menjadi kombinasi yang menggiring pengunjung merasakan ibadah  dengan atmosfer suasana ratusan tahun lalu.

Adapun finish kegiatan adalah ziarah ke makam raja-raja Mataram. Di tempat tersebut terdapat makam Panembahan Senopati beserta keluarganya. Komplek makam ini berada di kawasan yang sering disebut ndondongan, meliputi Masjid Agung sendiri, kemudian Pasarean Hastha Kitha Ageng dan Sendang Seliran.

Dalam komplek makam raja tersebut juga terdapat pemandian lama atau sendang seliran yang masih sering digunakan hingga saat ini. Terdiri dari sendang kakung dan sendang putri  dengan lokasi yang dipisah.

Saat  memasuki kompleks makam kita akan melewati Bangsal Pangapit Ler dan Bangsal Pangapit Kidul. Kemudian kegiatan Jagalan Tlisih ini akan diakhiri dengan ekslusif dinner di depan komplek ini.

Nantinya akan ada pertunjukan tarian, keroncong, gamelan dan salawatan yang dibawakan oleh masyarakat Jagalan, atau menggandeng pihak lain misalnya ISI untuk sendratari. Hidangan yang disajikan juga hidangan tradisional seperti sayur lompong, kembang gedang ataupun genjer.

“Semua dipersiapkan oleh masyarakat yang dihimpun oleh Pokdarwis,” kata Lurah Gono. Maka, usai mengikuti kegiatan Jagalan Tlisih mereka harus bersiap-siap merasakan kembali kehidupan masa lampau yang tentu membawa nuansa kebahagiaan tersendiri di tengah hiruk pikuk kehidupan masa kini.

“Kegiatan Jagalan Tlisih ini sudah banyak dilirik oleh biro perjalanan wisata dan kami nyatakan siap untuk menyambut wisatawan yang datang. Masyarakat juga telah kami sosialisasikan dan ada pelatihan menggandeng Pokdarwis dan juga unsur lembaga desa, termasuk bagaimana bersikap melayani wisatawan dan menjaga kebersihan lingkungan. Jadi silakan datanglah ke Jagalan akan banyak paket wisata yang bisa didapatkan di sini,” paparnya.

Bagi yang ingin mengikuti wisata Jagalan Tlisih atau paket wisata lain yang ada di Jagalan  bisa langsung menghubungi sekretariat di Komplek Balai Desa Jagalan atau langsung ke lurah desa.

Seni tradisi selalu diuri-uri, terbukti dengan terus eksisnya perajin gamelan Parwono di RT 2 Pedusunan I Pelem Desa Baturetno Kecamatan Banguntapan. (sari wijaya/koran bernas.id)

Seni Karawitan

Selain sejarah budaya, pelestarian tradisi  warisan leluhur juga kental di Kecamatan Banguntapan. Salah satunya seni karawitan. Bahkan di kecamatan berpenduduk 135.888 jiwa tersebut  terdapat tiga titik kerajinan karawitan.

Di antaranya Darto Harjono (62) warga Mertosanan Kulon Desa Potorono serta  Parwono (58) warga Pedukuhan 1 Pelem RT 02 Desa Baturetno. Di tangan empu seniman karawitan inilah, gamelan dibuat dan dipasarkan di dalam negeri dan juga tembus mancanegara.

Baca Juga :  Hujan Datang, Pengunjung Pantai Harus Waspada Longsor

“Saat ini saya sedang mengerjakan pembuatan gamelan komplet pesanan Kedubes Indonesia di Brasil,” kata Parwono. Pengerjaan satu set gamelan komplet dengan 14 item alat musik  seperti gong, kempul, suwakan sinem, kenong, gender dan lainnya, butuh waktu sekitar  dua bulan dan dikerjakan oleh 10 orang pekerja di tempatnya.

Bahan baku pembuatan gamelan dipilih dari bahan perunggu dan kayu nangka karena awet bisa bertahan  hingga  puluhan tahun. Untuk satu stel gamelan terdiri pelog dan selendro dibanderol dengan harga Rp 350 juta.

“Pengerjaan gamelan ini memang saya harus teliti termasuk nadanya harus pas atau istilahnya kita nyetem. Saya sendiri yang melakukan. Untuk gamelan berbahan tembaga, ketika ada nada yang tidak pas kita kerok tembaga tersebut agar kadar suara yang dihasilkan pas,” kata seniman senior ini.

Ketebalan bilah mempengaruhi hasil suara. Selain perunggu, gamelan juga bisa dibuat dari bahan kuningan, tentu dengan harga lebih murah, karena memang bahan bakunya juga lebih murah. Selain dari DIY, Parwono mengambil bahan baku dari Solo ataupun Klaten.

Darto Harjono menambahkan, kerajinan gamelan di tempatnya dijamin kualitasnya. “Saya benar-benar mengutamakan kualitas dari gamelan yang saya buat ini. Dikerjakan dengan teliti,” katanya.

Camat Drs Fatoni mendukung penuh pemberdayaan masyarakat dan juga pelestarian tradisi  di Banguntapan. “Jagalan Tlisih yang pernah dipentaskan di depan ratusan tamu dari luar Jawa adalah sendratari dengan menggandeng ISI. Saya rasa ini harus terus dipasarkan sehingga menarik wisatawan untuk mengenal seni tradisi dan sejarah di Jagalan, selain tentunya berimbas pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pihaknya juga mendukung gamelan tetap eksis dan lestari, karena memang gamelan merupakan seni kelas tinggi warisan nenek moyang yang harus dijaga bersama.

Banguntapan juga memiliki Museum Wayang Kekayon  berisi koleksi wayang ribuan jenis dari seluruh kawasan Nusantara dan mancanegara. Museum ini terletak di Jalan Raya Yogyakarta-Wonosari Km 3.

Ada juga Museum Dirgantara Mandala  di komplek AURI kawasan lapangan udara Adisujipto Yogyakarta. Di museum ini banyak ditampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia serta sejarah perkembangan angkatan udara RI pada khususnya. Selain terdapat diorama juga terdapat bermacam-macam jenis pesawat yang dipergunakan pada masa perjuangan. “Jadi mari  berkunjung ke Banguntapan,”ajak Camat Fatoni. (sol)