Siswa SMA Boda ikuti pesta kebudayaan di sekolah, Minggu (20/8/2017). (tugeg sundjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pesta kebudayaan Indonesia menjadi salah satu cara untuk mempersatukan keberagaman pelajar. Bahkan dinilai efektif untuk mengantisipasi maraknya kenakalan remaja, termasuk tawuran yang atau klithih yang marak terjadi di kalangan remaja.

“Kami meyakini peserta didik yang berasal dari berbagai suku dan daerah bisa bersatu. Sekolah ini menjadi prototype kebhinekaan indonesia. Karenanya perlu upaya untuk mempersatukan keberagaman ini melalui berbagai upaya, termasuk pesta kebudayaan,” ungkap Kepala SMA Bopkri 2 (boda) Yogyakarta disela acara HUT SMA Boda ke-68 dan HUT RI ke-72 di sekolah setempat, Sabtu (19/08/2017).

Sejak awal Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), sekolah itu mengenalkan keberagaman pada peserta didik yang baru. Diharapkan bila peserta didik bisa memiliki kesadaran untuk menjaga kebersamaan dan meminimalisasi friksi yang mungkin terjadi.

Baca Juga :  UNY Masuk Sepuluh PT Terbaik 2017 se Indonesia versi Ditjen Dikti

PLS juga diselenggarakan SMA Boda dengan pendekatan humanis. Tidak ada perploncoan ataupun kekerasan dalam kegiatan selama seminggu tersebut.

Sekolah itu menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti lomba renungan, lomba kelas, tumpeng dan lagu antitawuran. Selain itu diskusi tentang bahaya narkoba dan antikekerasan dengan narasumber yang kompeten dari kapolresta.

“Orangtua juga dilibatkan dalam sosialisasi antinarkoba dan antikekerasan karena keluargalah yang paling dekat dengan anak-anak,” imbuhnya.(yve)