Petani Cabai Harus Siap Kecewa

860
Hj Suwartiyem menghilangkan isi cabe Jawa merah pesanan restoran yang menjadi pelanggan tetap. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Lombok rawit merah pernah jadi primadona luar biasa. Harganya melangit. Pertengahan 2017 bahkan tembus di atas Rp 100.000 per kg di tingkat kulakan di pasar-pasar. Sedang di tingkat pengecer lebih tinggi lagi.

Meski harga sangat tinggi tetap laku, karena masakan tanpa cabai rawit merah tidak terasa lezat. Tapi jangan dulu membayangkan petani berubah kaya raya.

Ternyata harga cabai di tingkat petani jauh di bawah pasaran dan kadang-kadang muncul sebagai pemberi harapan palsu atau PHP. Petani pun harus siap kecewa.

Di sektor perdagangan apapun, pedagang perantara merupakan pihak yang paling banyak memperoleh keuntungan. Dulu, saat harga di atas Rp 100.000, seorang petani cabai dari wilayah Sleman mengaku lomboknya  hanya dibeli Rp 35.000 per  kg. Betapa tidak adilnya.

Melonjaknya harga  cabai rawit merah paling tidak membuat para petani ngiler untuk ikut menanamnya. Melimpahnya produksi, sesuai hukum penawaran dan permintaan, membuat harga jadi goyah.

Goyahnya harga ini tidak semata-mata karena faktor barang melimpah, tapi ada faktor lain yang mengikuti. Apalagi lombok merupakan salah satu komoditas yang tidak berumur panjang. Artinya, busuk mengancam jika tidak laku dalam hitungan hari atau minggu.

Saat ini harga cabai relatif tidak begitu menggembirakan. Di tingkat kulakan di Pasar Beringharjo, harga cabai rawit merah yang masih sangat segar tercatat Rp 20.000 per kilogram.

“Ini setoran langsung dari petani,” kata Hj Suwartiyem, salah seorang pedagang lombok di lantai dua menjawab pertanyaan koranbernas.id,  Selasa (11/09/2018).

Harga itu menurut dia stabil sejak Idul Adha. Sebelumnya masih bisa mencapai Rp 35.000.

“Tapi pembeli sepi. Tujuh belasan dan Idul Adha yang kami harapkan ternyata meleset,” kata Hj Suwartiyem yang sudah puluhan tahun jualan lombok.

Itulah makanya selain jualan cabai segar berupa lombok rawit merah, dia menyediakan lombok merah Jawa, merah keriting dan merah teropong.

Suwartiyem juga mengeringkan lombok dari barang sortiran (BS) yang akan disetor ke Jakarta. Lima kilogram menjadi 1 kg cabai kering yang isinya akan digunakan untuk bibit dengan harga Rp 50.000 per kg cabai kering.

Hari itu dia terlihat sibuk menghilangkan biji lombok merah pesanan sebuah restoran yang menjadi langganannya. “Supaya hasil masakan lebih bersih. Tidak terkotori dengan banyaknya isi cabai,” kata sang pemilik restoran menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Kerja tambahan itu tidak dikenakan biaya melainkan salah satu bentuk  layanan ekstra supaya tidak lari ke pedagang lain.

Harga di Pasar Beringharjo Yogyakarta  Rp  20.000 per kg lantas  berapa harga di tingkat petani? Seorang petani di Gerjen Dusun Trayeman Desa Pleret Bantul hanya bisa menjual jauh di bawah harga itu.

Ny Isriyah, pengusaha salon dan rias pengantin di Tambalan Dusun Trayeman awalnya berharap banyak. Tapi menurut Mirza, anak kedua dari pasangan Isri dan Wage, ibunya memang agak kecewa dengan harga saat panen ini.

Awalnya, menurut Mirza, ibunya berharap harga masih bisa Rp 30.000. Ternyata keluarga itu hanya bisa menjual antara Rp 9.000, Rp 10.000 dan kadang-kadang lebih tinggi dari itu.

Lombok hasil panen dijual ke beberapa pedagang mi ayam dan pedagang lombok.

Setelah mulai berbuah pada usia sekitar tiga bulan, lombok bisa dipanen tiga kali seminggu. Karena lahannya hanya 30 lubang atau sekitar 300 m2, setiap panen sekitar 7 sampai 10 kg.

“Tapi karena rutin jadi lumayan lah. Petik lombok bisa dilakukan sampai empat bulan,” kata dia.

Mirza menunjukkan cabai rawit merah yang harus segera dipanen. (arie giyarto/koranbernas.id)

Mirza terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang tanaman lombok. Kebetulan siang itu ibu dan ayahnya sedang pergi sehingga dia bisa bercerita panjang lebar.

Mahasiswa semester lima Jurusan Teknik di perguruan tinggi swasta ini terlibat dalam perawatan sampai pemetikan yang dilakukan bersama ayahnya. Dengan begitu, saat panen tidak mengeluarkan ongkos petik.

Mestinya petani yang harus bermodal untuk membeli benih-benih yang sudah tumbuh dengan beberapa lembar daun. Benih itu ditanam pada polybag kecil.

Selain benih, masih ada biaya tanam di sawah, perawatan, pupuk dan penanggulangan hama maupun menyiangi rumput yang selalu tumbuh.

Orang tuanya menanam lombok sistem tumpangsari dengan kacang prol yang tidak saling mengganggu. Ketika koranbernas.id ke sawah, tanaman kacang baru saja dipanen.

Meski kulitnya agak kehitaman terpapar sinar matahari, namun Mirza tak pernah mengeluh. Dia juga membantu usaha ibunya menangani dekorasi pengantin.

Dari sawah ini Mirza banyak memperoleh ilmu serta belajar pada  alam dan merasakan suka dukanya menjadi petani. Pemuda itu jadi paham kenapa pada musim penghujan harga cabai tinggi.

Ini karena ada hama yang susah untuk ditanggulangi. Tanaman pun harus diawasi suplai airnya karena jika kebanyakan air tanaman lombok mati.

Pada musim kemarau petani harus mencari air atau biasa disebut leb.

Sejak menanam lombok beberapa musim lalu, Mirza ingat ibunya pernah menjual dengan harga Rp 7.000 per kg. Harganya memang fluktuatif, banyak faktor mempengaruhi.

Memang petani perlu dilindungi, terutama dari pengijon dan penebas yang ingin mendapatkan keuntungan besar.

Di Bantul pada era bupati Drs H Idham Samawi, pernah ada kebijakan pemda membeli seluruh cabai saat panen raya dengan harga di atas harga pasar.

Pemda menjalin kerja sama dengan industri besar pengguna lombok sehingga petani lebih diuntungkan.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman pun mendirikan Rumah Lelang Cabai. Tujuannya sama, melindungi petani lombok. Sekal lagi, harga cabai ibarat pemberi harapan palsu. (sol)