Petani Diminta Rajin Buka Aplikasi Prediksi Cuaca

350
Kepala Distanpangan Masrik Amin Zuhdi dan nara sumber saat memberikan materi dalam acara sosialisasi prediksi kondisi iklim Temanggung tahun 2018. (Endri Yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Para petani diminta untuk memahami perubahan iklim sebelum melakukan penanaman tembakau pada musim tanam 2018. Pasalnya iklim saat ini masih ekstrem. Dengan demikian para petani bisa melakukan penanaman secara tepat agar berhasil sehingga terbuka peluang memeroleh keuntungan.

Permintaan itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung, Masrik Amin Zuhdi dalam acara  “Sosialisasi  Prediksi Kondisi Iklim Temanggung Tahun 2018, Sebagai Upaya Antisipasi, Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim untuk Mencapai Keberhasilan Produksi  Tembakau Berkualitas”.

Acara diikuti para PPL Pertanian dan perwakilan petani dari sejumlah sentra tembakau dan menghadirkan sejumlah nara sumber.

Masrik Amin  Zuhdi mengatakan petani tembakau  sudah semestinya memahami anomali cuaca yang cenderung masih ekstrem  dengan mengikuti perkembangan perubahan cuaca yang terjadi.

Dengan demikian petani bisa mulai menanam tembakau pada saat yang tepat, yakni iklim benar-benar bersahabat agar penanaman  tak menuai kendala, tumbuh subur hingga saat pemanenan.

Oleh karena itu diharapkan petani pro aktif dengan mengikuti informasi perubahan iklim. Salah satu diantaranya rajin membuka aplikasi  prediksi cuaca yang saat ini sudah tersedia di media sosial.

“Kita memang tidak bisa melawan iklim karena hal itu sudah menjadi fenomena alam. Namun kita bisa masuk di lorong iklim tersebut untuk disiasati sehingga budidaya pertanian utamanya tembakau  tetap bisa dilakukan  dengan baik,”ujarnya.

Iis Widya Harmoko dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau  tahun 2018 di Kabupaten Temanggung mulai bulan Juni  Dasarian I (tanggal 1 hingga 10) dan Juni dasarian II  (tanggal 11 hingga 20).

Diperkirakan pada bulan April hingga Mei   masih akan banyak turun hujan. Oleh sebab itu, guna mengantisipasi kerusakan tanaman, petani diimbau untuk tidak memulai tanam pertama periode tersebut lantaran intensitas hujan yang masih cukup tinggi.

“Dari perkiraan kami, curah hujan masih akan tinggi pada akhir April atau awal sampai pertengahan bulan Mei. Maka dari itu, kami imbau petani untuk memilih masa tanam pertama pada akhir bulan depan untuk menekan angka kematian dan kerusakan tanaman tembakau,” jelasnya

BMKG berharap, petani tembakau di Temanggung dapat memulai tanam pertama tanpa terganggu oleh anomali cuaca. Pasalnya, belakangan ini memang terjadi kecenderungan perubahan iklim yang berdampak langsung pada pergeseran waktu tanam.

Oleh karena itu, petani hendaknya pandai-pandai dalam mensiasati perubahan iklim yang terjadi, sehingga budidaya penanaman tembakau tak mengalami kegagalan dan meraih hasil optimal.

Nara sumber lain Andi Syahid Muttaqin dari Laboratorium Agroklimat Universitas Gajah Mada Yogyakarta mengatakan terbukti ada hubungan erat antara iklim global terhadap  produksi tembakau di Temanggung .

Iklim di Temanggung dan wilayah Indonesia  secara umum lanjutnya, dipengaruhi oleh kondisi suhu muka laut dan uap air di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Oleh karena itu  perlu antisipasi kondisi iklim tahun 2018, khususnya saat akhir musim kemarau atau masa panen tembakau, sehingga pada saat panen cuaca masih terang benderang,  tembakau yang dirajang bisa kering sehari.

“Prinsip petani mesti cerdas dalam mengantisipasi perubahan iklim. Rajin buka internet manfaatkan aplikasi prediksi cuaca  perjam untuk dua hari ke depan saat menjemur hasil panen tembakau,” pintanya. (SM)