Petani Glagah Kini Naik Mobil Mewah

230
Sebagian dari rumah relokasi warga terdampak bandara yang belum selesai. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Warga terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo ketika menerima ganti rugi tanah dan aset membuat mereka banyak memegang uang. Tidak hanya jutaan, banyak warga dalam waktu relatif singkat memiliki uang miliaran rupiah.

Ketika memiliki uang banyak, dorongan nafsu untuk membelanjakan uangnya menjadi sangat besar. Apalagi dalam kondisi seperti itu,  banyak berdatangan sales penjual barang mewah serta  benda-benda konsumtif.

Bagi yang kurang memiliki kemampuan berpikir rasional, akan mudah tergoda rayuan sales barang mewah. Tanpa pikir panjang membelinya tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi keluarga maupun ke depannya.

Akibatnya saat ini ada beberapa orang petani yang semula hanya naik motor Honda Supra kini memiliki mobil mewah sekelas Mitsubishi Pajero. Kades Glagah Agus Parmono menyatakan benar di desanya kini banyak warga yang memiliki Pajero.

Baca Juga :  Ini Penyebab Dana Desa Bermasalah

Agus mengaku tidak dapat mencegah warganya yang berpola hidup konsumtif. “Usaha mengingatkan agar tidak konsumtif sudah kami lakukan. Namun masing-masing orang kan mempunyai hak,” ujarnya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo setiap bertemu warga di sana juga selalu mengingatkan,  agar warga menghindari perilaku konsumtif.

“Jangan membeli barang konsumtif, barang mewah. Beli saja barang untuk investasi. Daripada beli Pajero lebih baik beli truk untuk usaha. Atau bus untuk travel. Atau beli emas untuk investasi,”  ujarnya, beberapa waktu lalu.

Dari ajakan tersebut ada warga yang menurut,  namun ada juga yang mengacuhkannya. Seperti halnya dengan Rasikem Suyono, warga Kepek Glagah. “Mobil Pajero sudah saya jual,  saya belikan truk. Saya juga beli bus yang garasinya sedang saya bangun saat ini,”  tuturnya.

Bus dan truk untuk usaha anak-anaknya. Sedang untuk kebutuhan sehari-hari sementara ini menggunakan bunga bank dari tabungan depositonya. Rasikem mengaku semua sawah pekarangan dan rumahnya tergusur bandara sehingga dia ikut relokasi.

Baca Juga :  Hipakad Harus Jadi Loyalis Pancasila

Hal senada diungkapkan Burhabudin. Uang ganti rugi bandara dibelikan sawah di daerah Panjatan. “Di sini ikut relokasi,  tapi saya juga mbangun rumah di Panjatan. Rumah relokasi untuk anak saya akan tinggal di panjatan nunggu sawah,” tuturnya.

Rumah relokasi sebulan lagi diharapkan sudah selesai, dapat untuk tinggal. Namun selanjutnya sebagian dari mereka masih harus berpikir tentang mata pencaharian selanjutnya. Semula profesinya petani, kini sawah sudah tidak punya lagi. Harapannya tentu dapat kerja sebagai buruh di proyek bandara tersebut.

“Saya akan coba bangun pasar dekat tempat relokasi. Mudah-mudahan dapat untuk berdagang sebagian warga,” kata Kades Glagah Agus Parmono. (sol)