Petani Kopi Masih Terkendala Alat dan Fasilitas

43
Kepala Dintanpangan Kabupaten Temanggung, Masrik Amin pada acara Pengendalian Hama Terpadu Kopi, di Desa Gesing, Kecamatan Kandangan. (Endri Yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Upaya meningkatkan kualitas kopi, sangat dibutuhkan ketersediaan alat maupun fasilitas pendukung. Namun hingga kini, para petani kopi di Kabupaten Temanggung belum memiliki peralatan dan fasilitas yang memadai.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpangan) Kabupaten Temanggung, Masrik Amin mengatakan,  meningkatkan kualitas produksi kopi sangat dibutuhkan penyerapan alat maupun fasilitas yang mendukung.

“Kualitas kopi di Temanggung, utamanya di Desa Gesing,Kecamatan Kandangan, sudah sangat bagus. Bahkan tahun 2017 lalu, kopi Gesing mendapat juara kopi terbaik tingkat nasional,”ungkapnya

Namun, sampai saat ini petani kopi di Desa Gesing masih mengalami berbagai kendala. Seperti tidak mempunyai alat untuk penggerek penyakit pada buah kopi. Selain itu juga tidak mempunyai alat penyortir buah kopi dan gudang penyimpanan.

Diungkapkan, faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi kualitas dan juga harga kopi di Temanggung.

Baca Juga :  Bidan Desa Tidak Boleh Minta Pindah Tugas

“Ketika panen, komoditi ini melimpah. Tapi setelah dua bulan, kopi mulai langka. Tapi harga jualnya murah karena kualitas tadi kaitannya dengan kadar air, dan petani tidak bisa menyimpan dan tidak punya gudang. Padahal kebutuhan kopi itu satu cukup tinggi,”ungkap Masrik saat ditemui di acara “Field Day Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) OPT” Kopi di Dusun Jentan, Desa Gesing, Kandangan Temanggung, kemarin.

Dikatakannya, ketika terdapat mesin pengering dan juga gudang, nantinya akan banyak membantu petani. Fasilitas berupa gudang akan mengontrol suplai kopi d pasaran.

“Penikmat kopi kan tahunya setahun ada kopi terus. Nanti kalau sudah ada mesin pengering, pengeringan sempurna kemudian kita menyediakan gudang — gudang tiap bulan pengeluaran kopi itu bisa keluar sesuai dengan kebutuhan. Tidak begitu panen, habis panen langsung habis,”tambahnya.

Baca Juga :  Empat Pelaku Judi Berhasil Diamankan Polisi

Menurutnya, untuk saat ini harga kopi di Temanggung belum seperti diharapkan.  Green Bean Robusta hanya dihargai Rp22.000 per kilogram. Sedangkan di pasar internasional telah mencapai Rp54.000. Untuk Arabika sendiri di pasar internasional mencapai harga Rp125.000 per kilogramnya.

Hal ini, lanjutnya, tentunya harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan petani dalam menciptakan kualitas dan harga kopi yang tinggi. Terkait hal tersebut Masrik mengimbau kepada para kelompok tani yang mengikuti acara field day tersebut agar acara ini dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga para kelompok tani bisa menyampaikan kendala — kendala yang sering mereka hadapi dalam diskusi yang dilakukan. (SM)