Petani Kota Tanam Pohon Pisang

468
Waseko dari Mujamuju menampilkan pisang Ambon dengan delapan sisir pisang cantik. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —¬† Keterbatasan lahan atau halaman rumah-rumah di perkotaan terutama di kawasan padat penduduk ternyata bukan alasan untuk tidak memberi sentuhan hijau di lingkungan. Tak sekadar hijau, tapi juga menghasilkan.

Coba lihat gelar potensi pertanian perkotaan yang sejak Kamis (12/04/2018) berlangsung di halaman Balai Kota Yogyakarta sampai Minggu ini. Banyak inovasi dilakukan oleh para petani kota yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani itu.

“Untuk menyiasati sempitnya lahan bisa dilakukan penanaman dengan pot. Tidak langsung ditanam di tanah supaya ngirit tempat,” kata Slamet, pensiunan Petugas Lapangan KB yang kini aktif di Kelompok Tani Mandiri Kotagede Yogyakarta.

Slamet dari Kelompok Tani Mandiri Kotagede menanam sayuran di botol bekas air mineral. Dirangkai dan digantung sehingga bisa berfungsi sebagai tirai hidup. (arie giyarto/koranbernas.id)

Kepada koranbernas.id Jumat (13/04/2018) siang dia menjelaskan penggunaan pot memudahkan penggeseran tempat guna mengejar sinar matahari sesuai kebutuhan tanaman.

Jenis tanaman bisa bervariasi. Mulai dari tabulapot atau tanaman buah dalam pot yang bisa menghasilkan buah bergelantungan.

Selain dimanfaatkan hasil buahnya tabulapot juga bisa berfungsi sebagai hiasan. Apabila dijual harganya mahal. Jadi menguntungkan sebagai sebuah usaha.

Selain itu juga aneka sayuran. Slamet bahkan mencoba menanam sayuran dengan memanfaatkan barang limbah seperti botol air mineral.

Media tanamnya campuran antara tanah, pupuk kandang dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Bisa juga tanahnya sedikit dikurangi dan ditambah sekamnya supaya botol lebih ringan.

Anggrek bulan raksasa. Bunganya banyak dan ukurannya tebal. (arie giyarto/koranbernas.id)

Bagian atas diberi tiga lubang untuk menanam sayuran. Demikian juga bagian bawah diberi lubang kecil-kecil agar sirkulasi air bagus. Slamet mencoba menanam bayam merah serta seledri. Menurut Slamet, sayuran apapun bisa.

Untuk lebih menarik, dia mencat botol warna-warni yang kontras dengan warna sayuran. Beberapa botol tersebut kemudian digantung dalam posisi tidur dengan tali. “Ini kan multifungsi, bisa jadi tirai,” katanya.

Dengan menanam sayuran sendiri bisa lebih merasa aman karena tanpa memakai pupuk kimia. Dia juga mengembangkan tanaman merica dalam pot.

Merica atau lada tanpa mengenal musim berbuah. Terus menerus dan tinggal diambil yang berwarna kuning kemerahan. Lalu direndam air kemudian dijemur dan lada pun siap pakai. Lumayan untuk memenuhi keperluan dapur sendiri.

Uun lebih banyak menampilkan aneka bunga. (arie giyarto/koranbernas.id)

Aneka bunga

Selain sayuran dalam gelar potensi pertanian itu juga ditampilkan aneka tanaman bunga yang sangat menarik. Anggrek bulan yang bunganya super besar dan sangat banyak ditampilkan wakil dari Kecamatan Wirobrajan.

Banyak juga anggrek dendrobium termasuk bibitnya yang relatif murah meskipun harus sangat telaten memeliharanya dalam jangka relatif lama.

Petani Waseko dari  Mujamuju Kecamatan Umbulharjo misalnya menampilkan pisang ambon dengan delapan sisir pisang cantik. Kepada koranbernas.id dia menceritakan tentang usaha menanam pisang kapok yang cukup menguntungkan.

Sedang Uun dari Ketanggungan Kecamatan Wirobrajan yang sehari-hari mengelola kios tanaman di PASTY, lebih menampilkan aneka tanaman bunga yang tampil menarik.

Selain aneka tanaman buah, bunga dan tanaman obat keluarga, gelar potensi pertanian juga menampilkan aneka olahan makanan hasil pertanian.

Para peserta menyatakan, yang penting adalah kesungguhan untuk menekuninya. Termasuk semua bisa belajar tentang olahan hasil pertanian yang banyak orang atau kelompok tani yang sudah menikmati hasilnya. (sol)