Petani Tebu Jogja Ngamuk

351
Unjuk rasa petani tebu DIY, Kamis (24/8/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Gula impor saat ini membanjiri pasaran dengan harga yang murah. Dampaknya gula produksi dalam negeri tidak berdaya karena tidak terserap pasar. Bahkan banyak gula yang kini menumpuk di pabrik seperti PG/PS Madukismo, 7.000 ton gula yang telah diproduksi tidak mampu ‘dilempar’ ke pasaran.

Jumlah itu diyakini terus bertambah mengingat produksi saat ini terus berjalan. Dan total diperkirakan sekitar 20.000 ton. Jumlah itu belum ditambah dengan produksi pabrik di daerah lain se tanah air.

Dipastikan jika kondisi tersebut tidak disikapi dengan cepat oleh pemerintah , industri gula dalam negeri akan hancur, dan ratusan ribu petani tebu akan bangkrut. Meradang dengan kondisi yang ada, petani tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) DIY menggelar demo di perempatan Madukismo, Jalan Ring Road Selatan, Kamis (24/8/2017).

Truk pembawa tebu yangaakan setor ke pabrik Madukismo juga diberhentikan dan dijajar di sepanjang jalan Ring Road Selatan, sehingga petugas kepolisian harus bekerja keras agar arus tetap lancar.

Baca Juga :  Camat Harus Bisa Jadi Figur Panutan

Sementara ratusan petani lainnya membentangkan spanduk penolakan gula impor dan kepala mereka diikat pita kuning. Mereka menuntut pemerintah menyelamatkan gula produksi petani Indonesia.

Selain berorasi, petani yang kesal juga sempat menurunkan satu ikat tebu dari truk dan diinjak ramai-ramai sembari mengungkapkan kekesalan atas kondisi yang ada.

Roby Hernawan, Ketua APTRI DIY mengatakan membanjirnya gula impor membuat gula produksi dalam negeri terpuruk.

“Kita yang sudah produksi di Madukismo itu 10.000 ton dan baru terjual dua periode sejak Mei lalu. Sehingga masih ada sisa 7.000 ton di gudang yang belum terjual. Padahal produksi terus berjalan hingga Oktober. Kita berharap pemerintah mengambil sikap secepatnya,” katanya.

Karena jika dibiarkan, pabrik gula akan gulung tikar yang berimbas pada kehidupan para petani tebu. Sebenarnya pemerintah akan membeli gula petani Rp 8.300 per kilogram tetapi APTRI menolak karena dengan harga tersebut belum mampu menutup biasa produksi. Sementara muncul wacana Bulog juga akan membeli Rp 9.700 per kilogram.

Baca Juga :  PDIP Bantul Gelar Doa Bersama

“Itu baru wacana, karena hingga saat ini belum ada tindak lanjut. Itupun kami menolak karena belum menutup Harga Pokok Produksi (HPP),” katanya.

Mereka menuntut pemerintah membeli Rp 11.000 per kilogram tanpa beban PPN 10 persen.

Sementara Fajar Akbar petani tebu dari Sleman mengatakan mereka merasakan dampak dari membanjirnya gula impor. “Dampaknya pabrik gula tidak mampu menjual produksi mereka dan berimbas pada petani tebu yang belum mendapatkan pembayaran atas tebu yang mereka setorkan. Kami mohon pemerintah selamatkan nasib kami,”katanya.

Usai melakukan orasi, peserta meninggalkan lokasi dengan tertib .(yve)