Petani Tunggu Berkah Tali Asih PAG

254
Tempat relokasi yang kini dibangun hunian bagi warga terdampak. (dokumentasi)

KORANBERNAS.ID — Para petani penggarap tanah Paku Alam Ground (PAG) yang terdampak penggusuran lahan untuk megaproyek bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) hingga saat ini belum juga menerima tali asih yang pernah dijanjikan beberapa pihak termasuk pihak Pura Pakualaman.
Hal itu membuat puluhan petani penggarap mendatangi Balai Desa Glagah, Senin (6/11) siang, guna menanyakan nasib mereka terkait kompensasi yang belum terealisasi. “Pada intinya, warga datang meminta kami memberi kepastian tali asih itu akan diberikan. Tentu saja saya tidak bisa menjawab hal itu karena itu urusan PA dan pengadilan untuk pencairannya,” kata Agus Parmono selaku Kades Glagah.
Menurut Agus, warga merasa risau karena sudah setahun berlalu sejak mereka tak bisa lagi menggarap lahan PAG, namun hingga kini janji itu belum juga terwujud. Warga sampai saat ini tetap belum menerima ganti rugi apa pun dan menuntut agar Bupati Kulon Progo serta PT Aangkasa Pura bisa memberi kejelasan terkait hal tersebut.
“Kami secepatnya akan mengonfirmasikan itu kepada bupati, walaupun kami tidak memberikan kepastian berlebihan. Harapan saya, secepatnya ada keputusan pengadilan karena tali asih itu sudah ditunggu warga penggarap,” ujarnya.
Dihubungi wartawan secara terpisah, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengaku telah mengantongi surat pernyataan kesanggupan pihak Pura Pakualaman untuk membayar tali asih kepada warga penggarap pada akhir Oktober 2017 lalu.
Menurut Hasto, PA akan memberikan tali asih senilai Rp 25 miliar kepada warga yang terdampak. Dengan adanya surat tersebut, bupati memastikan tali asih akan diberikan. Tali asih dimungkinkan baru bisa diberikan jika pihak PA sudah menerima dana ganti rugi pembebasan lahan PAG dari proyek bandara. Adapun dananya saat ini dalam proses konsinyasi di pengadilan lantaran adanya sengketa.
Seperti diketahui, ratusan hektar tanah PAG di wilayah pesisir Kecamatan Temon terdampak pembangunan bandara. Ini mencakup lahan di Desa Glagah, Palihan, Sindutan dan Jangkaran yang selama ini digarap warga sebagai areal pertanian.
PT Angkasa Pura I sendiri menyatakan bahwa proses pembebasan lahan Paku Alam Ground di pesisir Temon sudah selesai. Project Manager Pembangunan NYIA PT AP I, Sujiastono mengatakan, kewajiban pihaknya untuk memberikan ganti rugi atas lahan tersebut sebetulnya sudah selesai.
Menurut Sujiastono, ganti rugi lahan sudah dibayarkan lunas ke pihak Pura Pakualaman sebagai pemilik lahan.
“Ganti kerugian, sudah dibayar lunas ke PA. Dananya dititipkan di pengadilan. Mungkin adanya gugatan terhadap Pura Paku Alaman sehingga belum diberukan tali asihnya,” kata Sujiastono. (ros)