FGD tim PKM UPY dengan mitra di RM Muara Kapuas.(istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) mendorong dan memfasilitasi para dosen dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal itu dimaksudkan untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi, daya saing bangsa dan kesejahteraan rakyat secara terprogram dan berkelanjutan.

Salah satu program yang diselenggarakan adalah Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Kegiatan ini bersifat problem solving, komprehensif, bermakna, tuntas dan berkelanjutan.

PKM merupakan salah satu bentuk dari pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan inovasi teknologi untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia. Selain itu memberikan solusi berdasarkan kajian akademik atas kebutuhan, tantangan atau persoalan yang dihadapi masyarakat baik secara langsung maupun tak langsung.

Sebut saja Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) yang melakukan program pemberdayaan ekonomi masyarakat di Gading Kulon, Donokerto, Turi, Sleman melalui PKM pada tahun ini. Program dimulai sejak Februari lalu dengan melibatkan lintas disiplin ilmu UPY.

“Sejak februari lalu kami berfokus pada perbaikan manajemen pengelolaan usaha yang meliputi perbaikan kualitas produksi, perbaikan kemasan, penyesuaian harga jual serta pemberian motivasi berwirausaha bagi dua kelompok usaha di gading kulon,” ungkap ketua tim PKM UPY, Ratna Purnama Sari di kampus setempat, Kamis (31/8/2017).

Menurut Ratna, mitra UKM yang yang didampingi merupakan Kelompok Usaha Asli dan Ngudi Rejeki. Ngudi Rejeki merupakan mitra binaan UPY yang menjadi hilirisasi kegiatan dalam program Penelitian Hibah Bersaing UPY 2015.

Di dua kelompok yang terdiri dari 12 orang tersebut, diversifikasi pengolahan salak menjadi produk dodol, brownis dan manisan dilakukan. Salak dipilih karena potensi kebun salak di Gading Kulon sangat berlimpah namun belum dikembangkan nilai jual ekonominya.

“Kami juga melakukan pendampingan pembuatan kecap kedelai, keripik daun singkong dan onde-onde bintang di dua kelompok ini,” jelasnya.

Ratna menjelaskan, dalam program tersebut ditemui sejumlah kendalan, terutama dalam hal keberlangsungan usaha. Sebab wirausaha yang mereka kerjakan belum menjadi penunjang ekonomi yang utama.

“Karenanya perlu pendampingan secara berkelanjutan, diantaranya melalui kuliah kerja nyata,” ujarnya.

Sementara anggota tim PKM UPY, Rosalia Indriyati mengungkapkan, tim tersebut menggelar Forum Group Discussion FGD dan monev internal Senin (28/9) di RM Muara Kapuas. Tin mengundang Dinas Kesehatan Sleman untuk memberikan penyuluhan mengenai perijinan industri produk rumah tangga (P-IRT) serta perangkat dusun Gading Kulon dan tim monev internal Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UPY.

“Kami juga menyearahkan kepada mitra sejumlah bantuan peralatan untuk menunjang kegiatan usaha mitra,” imbuhnya.(yve)