PMI Sleman Dorong RS Miliki Bank Darah

701

KORANBERNAS.ID—Kebutuhan darah yang tinggi di rumah sakit mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman meminta agar setiap rumah sakit bekerjasama memiliki bank darah.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sleman,  Sri Muslimatun dalam Evaluasi Pelayanan Unit Transfusi Darah (UTD) dan Pencermatan Draft MoU di Sleman, Selasa (30/01/2018).

Menurut Muslimatun, penyediaan bank darah ini berkaitan dengan kecepatan dan keselamatan pasien dalam hal ketersediaan darah. Sebab, kasus kematian pasien akibat pendarahan cukup tinggi. Seperti kasus kematian ibu hamil yang seringkali diawali pendarahan.

“Ketika darah dibutuhkan, mestinya saat itu juga tersedia di rumah sakit. Sehingga tidak perlu lari-lari,” kata Sri Muslimatun.

Muslimatun menyampaikan bahwa bank darah sebenarnya merupakan kebutuhan rumah sakit. Bank darah digunakan untuk memberikan pelayanan darah pada pasien yang diambil dari PMI. Sehingga ketika ada kegawatdaruratan atau dibutuhkan, darah sudah tersedia dan tidak perlu mencari keluar. Ketersedian darah di bank darah juga berdampak langsung pada efisiensi waktu penyelamatan pasien.

Sementara Ketua PMI Kabupaten Sleman, Sunartono menjelaskan, PMI Sleman tidak melayani pengambilan darah yang dilakukan perorangan, melainkan antar lembaga saja yakni rumah sakit dengan PMI. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan prima, sehingga pasien tidak perlu direpotkan dengan persoalan darah sekaligus untuk menjaga kualitas darah.

Perlakuan terhadap darah, katanya, juga tidak semua orang paham. Suhu untuk menyimpan darah harus benar-benar dijaga agar kualitasnya tetap baik. Ini membutuhkan tempat khusus untuk menyimpan seperti bank darah.

“Kalau darah diambil langsung oleh keluarga pasien sudah pasti tidak standar dan kualitasnya menurun. Kalau kualitas darah turun dan sampai pada pasien untuk ditransfusikan ya boleh dikata muspro atau sia-sia,” katanya.(SM)