Polres Kulonprogo Dijaga Berlapis Tiga

456
Petugas bersenjata laras panjang memeriksa warga yang hendak masuk markas Polres Kulonprogo, Senin (14/05/2018). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menyusul terjadinya aksi teror bom bunuh diri di sejumlah gereja dan markas polisi di Surabaya, Polres Kulonprogo, Senin (14/05/2018), menerapkan status siaga satu di lingkungannya serta memperketat pengamanan di gerbang masuk.

Sekitar 30 personel Sat Sabhara Polres Kulonprogo disiagakan berjaga di area gerbang masuk Polres yang kini diberlakukan sistem satu pintu dengan tiga lapis pengamanan.

Para petugas itu mengenakan rompi anti-peluru dan helm serta dibekali senjata api. Warga dan tamu yang hendak masuk ke area Mapolres harus melalui pemeriksaan lebih dulu.

Beberapa pertanyaan disampaikan kepada setiap warga yang datang. Kendaraan dan barang bawaan pun tak luput dari pemeriksaan.

Selain pengetatan pemeriksaan tamu, ratusan personel juga disiagakan di markas untuk mengantisipasi kejadian tidak diinginkan.

Baca Juga :  Bupati Larang Warga Setrum Ikan

“Dengan beberapa kejadian aksi terorisme di Surabaya, kami melakukan pengetatan keamanan di markas kami dengan beberapa lapis pengamanan. Status siaga satu sudah jadi imbauan Kapolri dan akan diberlakukan hingga ada instruksi pencabutan lebih lanjut,” kata AKBP Dedi Surya Dharma, Wakapolres Kulonprogo.

Selain itu, juga digelar patroli gabungan bersama unsur TNI, untuk menjaga stabilitas keamanan di masyarakat. Petugas melakukan pengecekan keamanan di sejumlah obyek vital dan tempat peribadatan.

“Kami berusaha mengantipasi adanya ancaman di tempat-tempat ibadah. Patroli kami lakukan bersama peronel TNI. Kami berharap masyarakat tidak terpengaruh upaya provokasi,” ujarnya.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kulonprogo mengutuk rentetan kejadian teror bom bunuh diri yang telah menyasar tempat peribadahan dan markas kepolisian.

Baca Juga :  Family Art Competitions, Agar Kebersamaan Keluarga Terjaga

Secara terpisah, FKUB Kulonprogo menilai aksi itu tidak berperikemanusiaan karena dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain.

“Kami yakin tidak ada satu pun agama mengajarkan perilaku seperti itu. Kami harap masyarakat tidak terpancing rasa takut maupun kehilangan kewaspadaan,” kata Agung Mabruri, Ketua FKUB Kulonprogo.

Pihaknya meminta masyarakat menjaga dan memperkuat solidaritas sesama warga beragama. Penguatan solidaritas beragama bisa mencegah aksi teror bom itu terulang lagi.

FKUB menilai, peran keluarga dengan penanaman nilai toleransi dan kehidupan beragama secara benar, sangat penting dalam upaya mencegah perluasan paham radikal di masyarakat.

Majelis taklim hingga Taman Pendidikan Quran (TPQ) juga harus mampu mengajarkan nilai positif yang sama dengan menyampaikan narasi pengajian dan ceramah yang toleran. (sol)