Ponijan-Riyati Pantang Surut Mencari Rezeki

225
Pasangan suami istri tunanetra Ponijan-Slamet Riyati bekerja membuat keset dan sapu di rumahnya, Senin (02/10/2017) sore. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Tangan Ponijan (58) menganyam pilinan sabut kelapa menjadi sebentuk keset. Tangannya terus meraba-raba dengan lincah, dan hasilnya anyaman tersebut tidak ada yang melintir atau salah arah.

Sementara istrinya Ny Slamet Riyati (55) yang  duduk di sebelahnya tampak membuat pilinan sabut kelapa yang masih awul-awulan menjadi lintingan yang rapi. Pilinan itulah yang diserahkan ke suaminya kemudian dianyam menjadi keset.

Itulah kegiatan setiap hari pasangan suami istri penyandang tuna netra yang tinggal di rumahnya nan sederhana di Dusun Sungapan Desa Argodadi Kecamatan Sedayu Bantul.

Kegiatan itu terus dilakukan, begitu pun usai menerima bantuan pemasangan instalasi listrik oleh Camat Sedayu, Drs Fauzan Mu’arifin, Senin (02/10/2017) sore.

Tampak mendampingi Danramil 02/Sedayu Kapten (Inf) Kusmin, Lurah Desa Argodadi Prayitno SE, Bhabinkamtibmas Polsek Sedayu, Babinsa Koramil 02/Sedayu dan tokoh warga setempat.

“Inilah kegiatan yang kami lakukan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kami juga memijat, kalau ada yang datang dan meminta jasa pijat saya ataupun istri,” kata Ponijan kepada koranbernas.id di lokasi.

Untuk membuat satu keset dirinya butuh waktu dua hari  karena disambi pekerjaan rumah lainnya. Setiap keset dijual ke pedagang ataupun orang yang datang ke rumahnya dengan harga Rp 10.000 per buah.

Baca Juga :  DPRD DIY Dorong Pemda Cek Ulang Alur Sungai

Selain keset dari sabut kelapa, pasangan suami istri ini juga membuat sapu ijuk. Sehari mereka mampu membuat dua sapu, harganya Rp 10.000 tiap bijinya.

Kemampuan membuat anyaman dan sapu serta memijat ini, menurut Ponijan, diperoleh saat dirinya mengikuti pelatihan di BLK Jalan Parangtritis puluhan tahun silam.

Di pelatihan  dengan sesama penyandang tuna netra ini pula, Ponijan yang asli Sungapan bertemu jodohnya Ny Slamet Riyati asal Srandakan.

“Saat itu saya juga ikut pelatihan,” timpal Ny Riyati. Di sanalah keduanya menautkan cinta hingga akhirnya berlabuh ke pelaminan 25 tahun silam.

Pekerja keras

Kegigihan pasangan suami istri tersebut diakui oleh tetangganya, Wasito (60). Dirinya mengenal sosok  Ponijan sejak  zaman dahulu dan memang tipe pekerja keras.

Usai menikah, kala itu diantar ramai-ramai oleh tetangga rumahnya di Sungapan, Ponijan langsung banting tulang menghidupi istri dan anaknya yang lahir kemudian dan diberi nama Agus Suganda (23).

Kegigihan itu bisa dilihat, pasangan Ponijan-Slamet Riyati pantang surut mencari rezeki kendati dalam keterbatasan. Keduanya juga tidak pernah mengemis.

Bahkan Ponijan rajin mencari rumput saat dulu masih beternak serta mengolah lahan pertanian. Dia juga mahir memanjat pohon kelapa, memetik buahnya untuk keperluan sehari-hari.

Baca Juga :  Bupati Beri Contoh Bayar Zakat

“Bahkan Pak Ponijan ini biasa ke pasar belanja, dan yang masak itu Bu Slamet Riyati ini. Pokoknya mereka adalah sosok yang mandiri, pekerja keras dan patut kita contoh,” katanya.

Kerja keras  itu pula  yang mengantarkan anak semata wayangnya Agus Suganda bisa menyelesaikan pendidikan di SMK Pajangan beberapa tahun lalu dan kini bekerja untuk membantu kedua orangtuanya.

Selain kesibukanya bekerja, Agus juga rajin membeli  bahan baku pembuatan sapu berupa ijuk ke wilayah Kulonprogo. Saat Agus belum dewasa biasanya sang ayah yang kulakan dengan naik angkutan umum ke Kulonprogo. “Saya bangga kepada orang tua saya. Matur nuwun sanget,” kata Agus penuh haru.

Sedangkan Camat Fauzan mengatakan bantuan instalasi listrik dan instalasi air bersumber dari dana sosial Unit Pengelola Kegiatan (UPK) kecamatan. “Kita yang proaktif bisa, atau dari masyarakat yang mengajukan bantuan. Jadi dua arah,” kata Fauzan.

Bantuan itu sifatnya hibah alias penerima tidak perlu mengembalikan. Selain instalasi listrik dibagikan juga bantuan keranjang, wajan, kompor gas, etalase dan peralatan lain sesuai kebutuhan penerima. (sol)