Posesif yang Berbuah Sepuluh Nominasi FFI

659
Pemain film 'Posesif' dalam meet and greet di JCM, Kamis (19/10/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Tak banyak film nasional bergenre drama romantis atau percintaan saat ini yang mampu bersaing dalam Festival Film Indonesia (FFI). Seringkali film yang disajikan untuk kepentingan hiburan belaka.

Namun tidak demikian dengan film Palari Films yang diproduseri Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia ini. Film berjudul ‘Posesif’ garapan sutradara Edwin yang sudah malang melintang di berbagai festival film internasional dengan karya-karyanya seperti Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), Postcards from the Zoo (2012), dan A Very Boring Conversation (2006) tersebut berhasil menyabet nominasi di FFI 2017.

Tak tanggung-tanggung, sepuluh nominasi seperti Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Pria Terbaik (Adipati Dolken), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Cut Mini), Penulis Skenario Asli Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, serta Penata Rias Terbaik.

Film yang bakal dirilis 26 Oktober 2017 ini senyatanya memang bukan film remaja biasa. Alih-alih mengangkat kisah percintaan picisan atau tangis alay, film yang dibintangi Adipati Dolken sebagai Yudhis dan Putri Marino sebagai Lala ini menyuguhkan sisi kelam dari romansa percintaan remaja.

Baca Juga :  ADBI Pilih RSUD Sleman Sebagai Lokasi Kunjungan

Disebut film ber-genre romantic-suspense, film ini mengisahkan sikap posesif dari para remaja yang kadang luput dari perhatian. Berawal dari pertemuan Lala dan Yudhis, dua anak SMA yang kemudian menjadi sepasang kekasih, Yudhis ternyata memiliki sifat posesif yang berlebihan. Lala, seorang atlet loncat indah tidak bisa berkutik ketika Yudhis overprotective dan tidak mengijinkannya bersama orang lain selain dia, bahkan sahabat Lala sendiri, Ega (Gritte Agatha) dan Gino (Chicco Kurniawan).

Yudhis pun banyak memaksakan kehendaknya pada Lala. Kekerasan pun dilakukan Yudhis pada kekasihnya itu. Lala yag berkali-kali ingin putus dari Yudhis tak bisa melakukannya karena Yudhis selalu berhasil meluluhkan hatinya.

“Yudhis dalam film ini digambarkan sebagai cowok yang sangat posesif, bahkan melakukan kekerasan pada Lala,” ujar Adipati dalam meet and greet di Jogja City Mall (JCM), Kamis (19/10/2017).

Baca Juga :  Salut, Para Pemuda Memilih Jadi Petani

Sifat tersebut muncul karena Yudhis merupakan anak dari single parent. Ibu Yudhis yang diperankan secara apik oleh Cut Mini tak segan melakukan kekerasan fisik kepada anak semata wayangnya itu. Sedangkan Lala, gadis penurut yang tidak bisa membantah keinginan ayahnya (diperankan Yayu Unru) yang memaksanya jadi atlet loncat indah meski tidak menyukainya. Persoalan-persoalan yang ditampilkan dalam film tersebut menjadi semacam ‘tamparan’ bagi para orangtua yang seringkali memaksakan kehendaknya pada anak-anak.

Meiske Taurisia mengatakan, mereka sengaja membuat film dengan genre tersebut sebagai alternatif dari boomingnya film horor di Indonesia. Banyak pesan moral yang ingin disampaikan lewat film tersebut.

“Kami sengaja jualan film dengan genre yang lain sekaligus mempromosikan rumah produksi,” imbuhnya.(yve)