PP Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan Kamis 17 Mei 2018

290
Dr Haedar Nashir MSi (tengah) menyampaikan penjelasan dalam konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro No 23 Yogyakarta. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid menetapkan 1 Ramadan 1439 Hijriyah jatuh pada hari Kamis (17/05/2018). Sedangkan Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriyah pada Jumat (15/06/2018) dan 10 Dzulhijah (Idul Adha) jatuh pada hari Rabu (22/08/2018).

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi dalam konferensi pers, Senin (14/05/2018), di Aula Lantai 3 Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro No 23 Yogyakarta.

Dia didampingi Prof DrYunahar Ilyas Lc MAg (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Dr Agung Danarto MAg (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Prof Dr  Syamsul Anwar MA (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah) serta Drs Oman Fathurrahman SW MAg selaku Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sehubungan kehadiran bulan suci Ramadan, melalui pernyataan sikap yang dibacakan Prof DrYunahar Ilyas Lc Mag, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak, segenap umat Islam di Indonesia memulai puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, mengikuti Sunnah Rasulullah SAW yang maqbulah, semakin mendekatkan diri kepada Allah untuk menjadi insan yang saleh serta berbuat ihsan dalam relasi kemanusiaan.

“Jadikan puasa dan ibadah Ramadan sebagai proses perubahan perilaku menuju perilaku ihsan atau kebajikan utama yang membentuk kesalehan sosial dalam kehidupan kolektif. Jadilah insan muslim yang selalu mengedepankan segala yang ma’ruf (baik) dan terhindar dari segala yang munkar (buruk) dalam segala bentuknya menuju kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat kelak,” kata Yunahar.

Inilah saatnya untuk mewujudkan amal Islami yang membawa pada kebaikan, kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan hakiki dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan relasi antarumat manusia universal.

Dia menambahkan, puasa dan segenap ibadah Ramadan lainnya hendaknya dijadikan momentum membentuk karakter diri setiap muslim dan warga bangsa yang uswah hasanah atau bersuri teladan yang baik.

“Utamakan uswah hasanah dalam bertutur kata dan menyampaikan ujaran-ujaran serta tindakan-tindakan yang membawa ketenangan, kedamaian, persaudaraan, kerukunan, kebersamaan, kasih sayang, toleransi, kesabaran saling memuliakan dan menjunjung tinggi keadaban utama,” tuturnya.

Yang terpenting adalah, hindari hal-hal yang mengarah pada dosa dan permusuhan, penyimpangan, penyelewengan, kekerasan, kedengkian, amarah, provokasi, teror, serta segala bentuk perilaku dan tindakan yang tidak berkeadaban dalam kehidupan pribadi dan antarsesama maupun dalam kehidupan berbangsa. (sol)