Presiden Datang, Pembangunan Bandara JBS Resmi Dimulai

437
Jokowi hadir di Purbalingga dan meresmikan dimulainya pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman, Senin (23/04/2018). (Prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Warga Purbalingga dan sekitarnya, jika akan bepergian ke Jakarta maupun kota-kota lainnya, sebentar lagi bisa dilayani dengan pesawat udara. Yakni melalui  Bandara Jenderal Besar Soedirman (BJBS) yang berada di kompleks Lapangan Udara (Lanud) TNI AU di Desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Purbalingga.

Pembangunan bandara ini, secara resmi dimulai bersamaan dengan kedatangan Presiden Joko Widodo, Senin (23/04/2018) di lokasi pembangunan bandara yang ditargetkan selesai akhir 2019.

“Keberadaan bandara komersiil ini diharapkan bisa memunculkan titik pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Purbalingga dan sekitarnya,” kata presiden Joko Widodo  kepada wartawan.

Presiden Jokowi juga menyampaikan bahwa bandara tersebut nantinya bisa memberikan manfaat bagi sembilan kabupaten/kota di sekitarnya. Masing-masing Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, Kebumen dan Wonosobo.

“Apalagi di Purbalingga terdapat investasi bernilai ekspor, yaitu industri bulu mata dengan skala  terbesar di dunia. Karena ada 60.000 tenaga kerja yang bekerja di sektor ini,” tutur Presiden.

Dengan adanya bandara, nantinya diharapkan investasi bidang bulu mata bisa melakukan ekspansi. Selain itu, investasi lain juga bisa berkembang.

Pembangunan dilaksanakan oleh PT Angkasa Pura (AP) II dengan anggaran Rp 350 miliar.

“Awalnya memang ditargetkan selesai pada akhir 2018. Namun pembangunan juga membutuhkan anggaran. Diharapkan akhir 2019 sudah bisa beroperasi,” tegas Jokowi.

Bupati Purbalingga Tasdi menyampaikan telah menandatangani MoU terkait pembangunan bandara Soedirman. Pihak yang menandatangani masing-masing  Gubernur Jateng Ganjar Pranowo,  Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin, Asisten Logistik KSAU Marsekal Muda TNI Yadi Husyadi, dan Direktur Utama  LPPNPI (Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia)/Airnav Indonesia, Novie Riyanto.

“Penandatangan MoU antara Pemkab Purbalingga dengan berbagai pihak tersebut  menjadi catatan sejarah dimulainya pembangunan bandara Jenderal Besar Soedirman. Selanjutnya, PT Angkasa Pura II yang akan menjadi operator bandara Soedirman  mulai merealisasikan pembangunan fisik dengan finalisasi Detail Enginering Design (DED),” kata Tasdi.

Presiden Joko Widodo saat mengunjungi pabrik rambut palsu, PT Boyang Industrial di Purbalingga, Senin (23/04/2018.(Prasetiyo/koranbernas.id)

 

Sebelumnya, Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabes TNI AU) telah memberikan izin dan persetujuan kepada Pemkab Purbalingga yang membangun akses jalan menuju bandara  di wilayah Kemangkon.

Lahan milik TNI AU yang akan dibangun akses jalan itu sepanjang 420 meter x 20 meter. Persetujuan itu terungkap dalam rapat yang digelar di oleh Tim Teknis Aset TNI AU.

”Kami berharap pembangunan bandara ini harus secepatnya dilakukan agar perkembangan ekonomi di Jateng bagian selatan barat bisa berkembang,” imbuh Tasdi.

Tasdi menambahkan, untuk pembangunan BJBS pihaknya menyediakan lahan lima hektar, dan Provinsi Jateng sembilan hektar. Pembangunan BJBS tersebut akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama, pembangunan runway  sepanjang 1.600 meter. Kemudian tahap kedua dilakukan pembangunan runway sepanjang 2.500 meter, serta pembangunan terminal penumpang seluas 3.000 meter persegi yang dapat menampung 300 ribu penumpang pertahun.

Ditargetkan, pembangunan BJBS  selesai akhir tahun 2019, dan di awal 2020 sudah bisa melayani penerbangan komersiil.

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Purbalingga, Presiden Jokowi dan rombongan menyempatkan ke PT Boyang Industrial. Yakni pabrik  rambut palsu (wig) terbesar di Purbalingga, dengan jumlah pekerja yang sebagian besar wanita mencapai 10 ribu orang.

Pabrik ini termasuk salah satu dari 20 investor  Korea yang menanamkan modalnya di Purbalingga, yang semuanya bergerak di bidang rambut palsu dan bulu mata ekspor. Keberadaan pabrik-pabrik  itu, yang total pekerjanya 60 ribu lebih, sangat membantu mengatasi pengangguran.(SM)