Presiden Tak Larang Pemutaran Film

238
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo melakukan ziarah Selasa siang di pusara Jenderal Besar Sudirman di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. (Rosihan Anwar)

KORANBERNAS.ID — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo  secara tegas mengungkapkan, Presiden Joko Widodo tidak pernah sedikit pun melarang penayangan kembali film karya sutradara legendaris Arifin C Noer yang bercerita tentang gerakan kudeta 30 September oleh PKI.

Kepada sejumlah media hari ini Selasa (19/9), Gatot Nurmantyo meluruskan, Presiden Jokowi hanya menginginkan agar fim tersebut dibuat ulang dengan teknologi perfiman mutakhir agar dapat lebih menarik generasi muda yang kini disebut dengan generasi Milenia.

“Saya tekankan disini, Presiden tidak melarang dan Presiden menyatakan agar dibuat berdasarkan generasi millennia, ya film yang lalu itu bedasarkan zamannya bagus kan gitu, tetapi zamannya sekarang kan berbeda dan saat ini sudah zamannya CD dan sebagainya,” kata Gatot usai berziarah.

Presiden, kata Panglima, bahkan menginginkan agar film tersebut dapat memberikan edukasi kepada generasi saat ini. Gatot pun mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah.

“Jadi, akan lebih menarik lagi jika dibuat ulang. Pesan Bapak Presiden adalah film itu dibuat dengan kondisi teknologi terkini sehingga dengan demikian masyarakat kita tidak buta terhadap sejarah, melek sejarah dan paham sejarah dan waspada terhadap sejarah tersebut. Tujuannya agar, kita ingat saat itu punya masa yang kelam, dan jangan sampai masa yang kelam itu terulang kembali,” kata Jenderal Gatot Nurmantyo.

Secara gamblang, Jenderal Gatot Nurmantyo mengakui dirinya memerintahkan agar seluruh jajarannya menonton kembali film karya salah satu sutradara terbaik di Indonesia yang berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI tersebut secara serentak. Gatot pun mengingatkan, banyak generasi saat ini yang tidak memahami esensi dan perjuangan generasi terdahulu dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan, termasuk dari ancaman komunis.

“Kemerdekaan ini bisa diraih dengan cara gotong-royong. Itukan sejarah, budaya, kalau itu kita hilangkan dikiranya kemerdekaan itu bisa semau-maunya saja diraih, maka banyak sekarang sebagai penikmat kemerdekaan dia seolah olah yang menciptakan kemerdekaan , semau maunya (menurut versi) dia, dan itu yang tidak benar,” tandasnya.

Panglima TNI mengatakan, instuksi pemutaran film tersebut ditujukan agar generasi saat ini lebih memahami sejarah perjuangan bangsa yang tidak sebatas dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Sementara terkait fakta-fakta tentang pemberontakan yang sampai saat ini masih menjadi polemik, Panglima meminta agar dibuka diskusi dan dialog mengenai Pemberontakan G.30S PKI. (ros)