Produk Kuliner Unik Tampil di Hartono Mall

103
Fahmy Akmal (kiri) dan Bennie Susilo menyampaikan keterangan pers terkait gelaran Kreatifood 2018 di Hartono Mall Sleman. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Sejumlah 50 produk kuliner unik yang diproduksi oleh perusahaan rintisan (start up) binaan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu (07-09/09/2018) ditampilkan di Atrium Hartono Mall Yogyakarta.

Ini merupakan rangkaian dari kegiatan Kreatifood 2018 Foodstartup Indonesia Product Showcase yang berlangsung di sepuluh kota di Indonesia. Sebelumnya, acara tersebut berlangsung di Medan dan Palembang.

“Kami menghadirkan 50 brand  yang menjadi unggulan,” ungkap Fahmy Akmal, Kepala Subdirektorat Pasar Segmen Bisnis dan Pemerintahan Bekraf kepada wartawan Kamis (06/09/2018) di lokasi acara.

Didampingi Bonnie Susilo selaku Perwakilan Perkumpulan Food Start Up Indonesia dia menyampaikan, ini merupakan kelanjutan dari program tahun 2016 dan 2017.

Bedanya, apabila tahun-tahun sebelumnya fokus menggarap jaringan pemasaran, kali ini konsens pada pengembangan kuliner Indonesia sebagai salah satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif.

Baca Juga :  DIY Jadi Spot Favorit Film Indonesia

Adapun produk kuliner unik itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Sambal Baba dari Papua ataupun keripik jengkol dari Jawa Barat yang renyah dan sama sekali tidak bau jengkol.

Pada penyelenggaraan di Medan dan Palembang, Bekraf berhasil mempertemukan antara reseller/distributor dengan para FoodStartup Indonesia. Hampir seluruh peserta berhasil memperluas pasarnya di dua kota tersebut dan kota-kota sekitarnya.

Dia menyampaikan, Power-G merupakan salah satu peserta Kreatifood 2018 yang berhasil mendapat reseller dan meraih nilai penjualan terbesar di Palembang, bersama dengan Sambal Baba serta Momchips.

Sedangkan Tahu Jeletot Taisi menjadi brand dengan jumlah item terjual terbanyak di Palembang, diikuti Momchips dan Happinaz.

Baca Juga :  Polisi Bekuk Tiga Pelaku Penyalahgunaan Psikotropika

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) baik Fahmy maupun Bonnie memaparkan subsektor kuliner memberikan sumbangan terbesar terhadap PDB (Pendapatan Domestik Bruto) ekonomi kreatif.

Fahmy menyebut angka 41,4 persen atau sekitar Rp 381 triliun dari total PDB ekonomi kreatif 2016 sebesar Rp 922 triliun. Laju pertumbuhan subsektor kuliner pada tahun yang sama mencapai 7,45 persen dan menyerap lebih dari 7,9 juta tenaga kerja.

Sedangkan pertumbuhan nilai ekspor subsektor kuliner mencapai 6,92 persen atau 1.260 Dolar AS, yang  sebelumnya 1.179 Dolar AS. “Kegiatan Kreatifood ini merupakan salah satu bentuk kontribusi Bekraf bagi subsektor penyumbang PDB ekonomi kreatif terbesar,” tandasnya. (sol)