Produksi Genteng di Temanggung Mulai Surut

5474

KORANBERNAS.ID–Dalam beberapa tahun terakhir ini harga jual genteng terus melemah seiring dengan sepinya permintaan masyarakat. Tak pelak hal itu juga berpengaruh terhadap produksi  penutup atap rumah tersebut.

Suyono (60), pria yang menekuni pembuatan genteng sejak tahun 1990-an, merupakan salah satu perajin genteng asal Desa Tegowano, Kecamatan Kaloran, Temanggung yang masih setia menekuni pembuatan genteng dari bahan baku tanah liat.

“Desa Tegowano merupakan daerah yang terkenal dengan kerajinan gentengnya di Temanggung. Hampir sebagian besar masyarakatnya membuat genteng, bahkan yang membuat gerabahpun ada,” ungkapnya.

Kerajinan ini sekarang  sudah mulai pudar. Yang memproduksi gerabah malah sudah tidak ada. Sementara untuk mencari bahan baku harus mengontrak ke luar desa yang tentunya harganya cukup tinggi.

Baca Juga :  Panwaslu Desa Jadi Ujung Tombak Awasi Pilgub

“Tanah asli dari Desa Tegowano sudah berkurang  karena sudah berpuluh-puluh tahun diambil untuk pembuatan batu bata maupun genteng, yang sudah dilakukan secara turun temurun dari generasi berganti generasi,” ujarnya.

Beberapa tahun terakhir produksi dan permintaan terhadap genteng terus menurun, sehingga banyak yang beralih profesi dari perajin genteng menjadi pedagang atau mendirikan warung makan di sepanjang jalan desa tersebut.

Menurunnya permintaan juga disebabkan teknologi yang semakin canggih. Banyak orang yang lebih memilih menggunakan genteng multiroof ketimbang genteng tanah, karena lebih ringan dan bisa digunakan untuk atap baja ringan

Produksi genteng yang semakin tahun semakin berkembang maju dengan kualitas dan lebih praktis tersebut membuat para perajin genteng harus memutar otak supaya usaha yang turun-temurun ini tetap berjalan.

Baca Juga :  Polisi Pelabuhan Dibunuh di Jalur Pantura

Suyono mengakui menurunnya pembeli genteng membuat dia harus menurunkan harga jual ke pedagang yaitu Rp 950 perbiji yang sebelumnya sekitar Rp 1.100 per buah.

“Karena saingan dan minat pembeli yang semakin menurun, sekarang kami tidak mengejar keuntungan yang besar, kami hanya melayani pelanggan dari kota Jogja, Solo, Batang dan Semarang, yang sudah menjadi pelanggan sejak pertama membuat genteng cetak ini,”katanya.

Penyebab lain menurunnya produksi genteng dikarenakan sedikitnya proyek pembangunan yang biasa dilakukan pemerintah, seperti pembangunan sekolah sekolah dan perkantoran yang menggunakan genteng tanah liat dan beralih ke produk yang lebih praktis dan ringan.(SM)