Profesor Ini Heran Masih Ada Atlet “Kaliren”

240
Prof Dr Djoko Pekik Irianto M Kes AIFO. (solahudin alwi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ketua Apkori (Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia), Prof  Dr Djoko Pekik Irianto M Kes AIFO, mengakui heran masih ada atlet kaliren atau kurang pangan. Penyebabnya karena masalah anggaran.

“Inilah dilema yang harus diatasi,” ujarnya Minggu (24/09/2017) malam di Ballroom Hotel UNY saat mengisi Pelatihan Pelatih dan Instruktur Olahraga Internasional.

Pengajar Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY ini mengatakan, olahraga adalah ilmu eksak, tidak coba-coba dan semua dihitung dengan pasti, termasuk menu makanan.

Seorang atlet harus menghitung kebutuhan kalorinya. Misalnya atlet sepakbola rata-rata membutuhkan 3.500 kalori per hari.

Menurut dia, kebutuhan energi untuk olahragawan bisa mencapai 6.000 kalori per hari. Bandingkan dengan orang pada umumnya yang hanya membutuhkan 3.200 kalori per hari. Artinya, kebutuhan kalori bagi olahragawan dua kali lipat.

Baca Juga :  Datangkan Wisman dengan Merapi Tourism Festival

Seorang atlet juga perlu mengonsumsi air lebih banyak. Apabila orang biasa meminum air 6 gelas per hari maka seorang atlet harus 20 gelas per hari atau empat liter.

Sebab, kata dia, cairan tubuh yang keluar saat atlet bertanding jumlahnya tiga kali lebih banyak. Misalnya saja pelari maraton bisa keluar keringat 2-4 liter per hari.

Prof Djoko Pekik Irianto kemudian menyampaikan filosofi makanan untuk olahragawan. “Tidak ada makanan khusus untuk meningkatkan prestasi tetapi makanan yang salah dapat mengganggu bahkan menyirnakan prestasi,” tandasnya.

Dia menambahkan, Indonesia tidak mungkin meraih prestasi tingkat internasional di sejumlah cabor (cabang olahraga) tertentu, sebab secara anatomi tubuh tidak sebanding.

Baca Juga :  Jadikan Pilbup Ladang Ibadah

Contoh, cabang olahraga bola voli. Para pemain luar negeri tinggi badannya rata-rata 2,7 meter. Inilah faktor anatomis yang tidak bisa dielakkan. “Sedangkan tinggi pemain kita rata-rata 1,93 meter. Ini ilmiah,” kata dia.

Itu sebabnya di China atlet yang memiliki postur tinggi dinikahkan dengan atlet yang juga berpostur tinggi supaya menghasilkan keturunan yang badannya tinggi. “Kita nggak mungkin, itu melanggar HAM,” ujarnya berkelakar.

Dalam kesempatan itu Ketua Umum KONI DIY dr Hadianto Ismangoen juga mengakui kekurangan atlet Indonesia umumnya pada kondisi fisiknya yang lemah.

Dokter spesialis anak ini menegaskan, fisik atlet adalah nomor satu yang harus digarap, baru kemudian teknis dan lainnya. Atlet juga harus disiplin dan bersikap jujur. (sol)