Prokasih di Code, Pendampingan Harus Berkesinambungan

242
Tokoh dari Pemetri Harris Syarif Usman, Selasa (12/09/2017) memberikan penjelasan tentang program kali bersih di Kali Code. (surya mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Sejak diluncurkan, program Kali Bersih atau prokasih di Kali Code Yogyakarta, memang telah membawa banyak perubahan. Namun untuk mencapai hasil optimal, maka program pendampingan perlu dilakukan berkesinambungan dan terus menerus.

Disela-sela menerima rombongan media, salah satu tokoh Pemerti Code, Harris Syarif Usman Sh, M.Kn mengemukakan, perubahan mengarah ke perbaikan di sepanjang daerah aliran Kali Code sangat terasa. Tapi perubahan yang terjadi, masih sangat jauh dari target untuk menjadikan kali yang berhulu di Merapi ini sebagai sungai yang benar-benar bersih, hijau dan sehat.

“Salah satu kendalanya, adalah karena program pendampingan masih by project. Artinya, ketika ada proyek pendampingan berjalan. Tapi ketika projek selesai, pendampingan juga mengendur. Padahal inti dari program kali bersih ini, adalah pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Jadi harus terus menerus, tidak boleh mengendur apalagi jeda,” kata Harris, Selasa (12/09/2017).

Guna menjamin keberlanjutan dan efektivitas program, Pemerti kata Harris meminta agar pemerintah daerah tidak berhenti pada program top down. Demikian pula pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Sungai atau Ulu-ulu dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) diyakini belum akan maksimal menyelesaikan masalah.

Pembentukan satgas ini, hemat Harris, harus diikuti dengan pelibatan masyarakat secara aktif. Setiap program terkait sungai, harus menjadikan masyarakat sebagai subyek dan bukan sekadar obyek.

Baca Juga :  Teror Pesanan Makanan Ancam Bantul

“Ini yang sampai saat sekarang belum dilakukan. Mestinya kami bisa dilibatkan aktif dalam setiap program. Programnyapun kami harus ikut membuat dan menyusunnya sehingga efektif,” tandas Harris.

Selain keterlibatan masyarakat, Harris juga memandang perlunya program kali bersih dijalankan linier dengan program pemberdayaan masyarakat. Sebab akar masalah kerusakan lingkungan sungai, sejatinya berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya.

“Saat ini secara bertahap masyarakat sudah mulai terbangun kesadarannya mengenai betapa pentingnya menjaga kelestarian sungai. Ini harus diikuti dengan program lain, agar masyarakat di sepanjang aliran sungai ini dapat mulai mengembangkan aktivitas-aktivitas yang memberikan nilai ekonomi, tapi disaat yang sama tetap mendukung program utama menjadikan sungai yang bersih, hijau dan sehat,” imbuhnya.

Sembari mengajak rombongan awak media turun ke sempadan Code, Harris menunjukkan berbagai hal menyangkut kemajuan daerah di sepanjang aliran Code, utamanya di Jetis Harjo. Di kawasan yang dulunya kumuh ini, saat sekarang sudah memiliki jalan seluas sekitar 2 meter berkonblok membentang di sepanjang tepi sungai.

Di beberapa lokasi, juga dibangun taman lengkap dengan tumbuhan perindang, bangku untuk duduk, kandang burung berukuran besar serta lampu penerangan yang sangat memadai dan indah di malam hari. Di sepanjang ruas jalan ini juga, masyarakat membangun fasilitas pengolahan kompos, serta fasilitas jaringan air minum secara swadaya yang mampu memenuhi kebutuhan warga. Fasilitas ini dengan memanfaatkan sejumlah mata air yang terdapat di tepian sungai.

Baca Juga :  “Wauu, Besar Sekali Gajahnya...”

Sedangkan rumah-rumah warga, yang dulunya membelakangi sungai, maka saat ini semuanya sudah menjadikan sungai sebagai halaman depan.

“Ini ada maksudnya. Ketika rumah menghadap ke sungai, maka warga akan malu kalau membuang kotoran di sungai. Sejauh yang kami tahu, saat ini hampir 100 persen rumah warga di sepanjang tepi Code, telah menghadap ke sungai. Yang masih perlu kita dorong adalah, kesadaran masyarakat untuk memundurkan hunian mereka sehingga ruas jalan di tepi Code ini cukup lapang bahkan untuk mobil ambulans atau damkar sekalipun. Ini penting, mengingat hunian yang padat di tepi sungai, sewaktu-waktu bisa saja terjadi musibah seperti kebakaran atau banjir di musim penghujan. Nah..untuk memundurkan hunian ini tidak mudah. Baru di sejumlah kampung yang sudah berhasil. Yakni di Jogoyudan, Keparakan dan Brontokusuman. Sebagian besar masih belum,” tandasnya. (Surya Mega)