PT Angkasa Pura Ambil Langkah Pengosongan Paksa

165
Rusunawa ini siap menampung warga terdampak bandara. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — PT Angkasa Pura akan mengambil langkah pengosongan secara paksa guna memindahkan warga terdampak bandara yang nekat bertahan, Senin (04/12/2017). Alasannya mereka sudah dibayar ganti rugi melalui konsiyasi di Pengadilan Negeri Wates.

Untuk membantu warga yang tergusur paksa ini  Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menyiapkan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) untuk menampung warga terdampak pembangunan.

Sekretaris Daerah Kulonprogo, Astungkara,  mengatakan Pemkab menyiapkan rusunawa sebagai tempat tinggal sementara bagi warga tersebut hingga nanti bisa mendapatkan rumah penggantinya.

“Lantai tiga dan lima masih kosong, mereka bisa tinggal di situ sampai punya rumah lagi,” kata Astungkara, Minggu (03/12/2017).

Rusunawa di Kulonprogo ada dua yakni Rusunawa Triharjo dan Rusunawa Giripeni di Kecamatan Wates. Rusunawa Giripeni hingga kini belum sepenuhnya siap huni karena belum diserahkan ke Pemkab Kulonprogo.

Baca Juga :  Pekerja Rumahan Belum Dihargai

Lokasi paling memungkinkan yakni di Rusunawa Triharjo karena sudah berpenghuni meski belum seluruh kamarnya terpakai.

Ketua Paguyuban Penghuni Rusunawa Triharjo, Sutarto,  menyatakan benar rencana relokasi tersebut. Pekan lalu, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo sudah menghubunginya dan memintanya menyiapkan kamar hunian di lantai 3 dan 4 di gedung B (gedung utara).

“Saya disuruh untuk bersihkan kamar dan pasang keran serta ngisi pulsa listriknya. Sekarang sudah siap huni,” kata Sutarto.

Informasi yang diterimanya, ada sekitar 40 kepala keluarga terdampak bandara dari Temon akan menghuni rusun tersebut.

Rusunawa lima lantai itu pada tiap lantai terdapat sekitar 24 kamar. ” DPU sudah punya daftar calon penghuninya dan tinggal koordinasi dengan lurahnya. Tapi ya sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata dia.

Baca Juga :  Ladies, Fashion itu Tak Sekedar yang Terlihat

Seperti diberitakan saat ini masih ada sebagian warga yang bertahan tinggal di rumahnya di dalam  wilayah lahan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Mereka adalah warga penolak pembangunan bandara yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP). (sol)