Radikalisme dan Intoleransi Musuh Umat Beragama

789
Pawai kelulusan Sekolah Kebangsaan Gunungkidul di Wonosari, Minggu (21/01/2018). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyatakan kelompok radikalisme dan sikap intoleransi menjadi dua hal yang harus dilawan masyarakat Indonesia, termasuk Kabupaten Gunungkidul. Dua gerakan tersebut tidak sesuai arah bangsa Indonesia yang mendasarkan pada kehidupan pancasila melindungi keberagaman adat, suku, ras, golongan dan agama.

“Gerakan yang gampang menyatakan bersalah hanya karena orang lain tidak sesuai dengan keyakinan saya, sekarang ini memang sudah muncul di Indonesia. Kita bersama-sama harus bisa menangkal itu,” kata Camat Wonosari Siswanto mewakili Pemkab Gunungkidul dalam membuka kegiatan Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul tahap ketiga bertempat di Vihara Jhinadarma Srada, Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Sabtu (20/01/2018).

Siswanto mengatakan sikap intoleransi dan radikalisme bukan saja mengancam kebebasan beragama, tetapi juga mengancam masa depan keberagaman Indonesia. Lulusan Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul hendaknya harus bisa melahirkan semakin banyak “pionir” untuk menangkal gerakan tersebut bersama-sama dengan pemerintah. Pemkab Gunungkidul meminta kegiatan Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul jangan sampai berhenti di angkatan pertama ini.

“Upaya untuk memperkuat dan memperbanyak anak muda menjaga toleransi ini jangan sampai berhenti. Kami siap mendukung karena Perbedaan adalah rahmad,” tambah mantan pejabat Kepala Bagian Pemerintahan Desa Setda Gunungkidul.

Ia menegaskan, Indonesia yang kaya akan pulau, bahasa, adat istiadat, suku, agama dan kepercayaan patut disyukuri bersama. Pemkab Gunungkidul yakin, apabila semakin banyak lahir anak muda yang toleran, beda namun bekerjasama, serta persatuan yang kokoh, maka kejayaan Indonesia akan kembali.

Sejumlah tokoh perwakilan dari berbagai agama hadir mengikuti pembukaan acara yang sebelumnya juga dilaksanakan dengan live-in di Pondok Pesantren Al Mumtaz Kecamatan Patuk dan Pura Bhakti Widi Kecamatan Ngawen.

Di setiap kegiatan berlangsung, peserta diajak mengikuti berbagai kegiatan. Dari mulai pelatihan peningkatan perspektif keberagaman, penggunaan media untuk kampanye keberagaman, membangun jejaring lintas agama, dialog dan diskusi antar agama, hingga mengenal tata ibadah seluruh agama.

Christiono Riyadi selaku Kepala Sekolah Kebangsaan Gunungkidul menyatakan kegiatan ini bukan merupakan kolaborasi dalam ibadah ataupun beragama. Sekolah Kebhinekaan digagas sebagai ruang bagi anak muda belajar toleransi dan meningkatkan ketrampilan hidup ditengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Kegiatan akan terus dilanjutkan setiap angkatan juga menjawab kebutuhan pemahaman positif bagi anak muda ditengah menghadapi situasi kondisi bangsa yang mudah bergejolak karena tidak pandai menyikapi perbedaan yang sebenarnya sudah sejak dahulu ada.

Sejumlah narasumber dihadirkan untuk membangun perspektif keberagaman peserta sekolah kebhinekaan tahap seperti pegiat media dan keberagaman dari Klaten Jateng, Purnawan Kristanto, pegiat kerukunan lintas agama Gunungkidul, Romo Rosarius Sapto Nugroho Pr, Bante Badrapalo, Pendeta Lucas, dan sejumlah aktivis Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika. Sejumlah aktivis organisasi masyarakat terlibat sebagai pendamping peserta seperti GP Ansor NU, Fatayat NU, Pemuda Katolik, Klasis GKJ, BKS, Majelis Buddhayana Indonesia, PHDI, dan Forum Lintas Iman.

Sejumlah 60 peserta dinyatakan lulus setelah menempuh seluruh kegiatan yang ditutup dengam long march dari Balai Desa Kepek menuju Bangsal Sewokoprojo Pemkab Gunungkidul, tempat penyelenggaraan penutupan kegiatan angkatan pertama. Disepanjang jalan utama Wonosari, mereka menggelar yel yel, bernyanyi lagu nasional, dan menggelar orasi kebangsaan. Pemkab Gunungkidul dihadiri Bupati, Ketua DPRD, dan Polres Gunungkidul Minggu (21/01/2018) malam hari menutup rangkaian kegiatan angkatan pertama. (yve)