Radikalisme Makin Canggih, BSSN Harus Jadi Benteng

223
Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deredikalisasi BNPT, Mayor Jenderal Abdul Rahman Kadir menyampaikan paparannya dalam seminar "Cybersecurity Awarnes Dalam Rangka Menguatkan Ketahanan Nasional", Rabu (18/10/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menjadi salah satu benteng dalam menangkal radikalisme. Lembaga negara yang baru saja diresmikan pemerintah RI pada 19 Mei 2017 lalu tersebut diharapkan mampu mengimbangi dinamika propaganda dan rekruitmen teroris yang semakin canggih pada saat ini.

“Rekruitmen terorisme semakin meningkat dengan banyak celah melalui teknologi informasi yang digunakan untuk menjaring anak-anak muda jadi teroris,” ujar Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen TNI R Gautama Wiranegara dalam sarasehan dan seminar nasional “Cybersecurity Awarnes Dalam Rangka Menguatkan Ketahanan Nasional” di Akademi Angkatan Udara, Rabu (18/10/2017).

Peran serta BSSN tersebut sangat penting mengingat proses rekruitmen terorisme baik secara kelompok maupun perorangan semakin canggih dan beragam dinamikanya. Karenanya dibutuhkan kejelian dan kewaspadaan dalam di era informasi tekhnologi ini.

Baca Juga :  Peras Sekolah TK, Nama Sekda Sleman Dicatut

Apalagi Indonesia merupakan negara dengan pengguna internet terbesar di Asia Tenggara. Fenomena itu menjadikan negar ini potensial untuk masuknya pengaruh radikal yang mengubah ideologi bangsa. Berdasarkan data dri Asosiasi Penggunaan Jasa Internet Indonesia, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta atau 51,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

“BSSN harus ikut berperan menjadi benteng bagi masuknya potensi-potensi radikalisme melalui jaringan informasi tekhnologi yang cara perekrutannya dilakukan secara masif dan canggih melalui informasi tekhnologi. Lembaga ini diharapkan dapat mencegah paham radikalisme dan terorisme tumbuh di lingkungan masyrakat baik dari hulu maupun hilir,” tandasnya.

Sementara Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi dan Aparatur Kemenkopolhukam, Marsda TNI Warsono mengungkapkan, pencegahan masuknya paham radikal dan terorisme membutuhkan peran semua lapisan, baik pemerintah, perguruan tinggi maupun swasta.

Baca Juga :  Masih Ada Celah Cari Bibit Pesepakbola Unggul

“Masyarakat diharapkan juga berperan lebih dalam melihat lingkungan sekitar dan memberikan informasi jika ada hal yang tidak biasa terjadi di lingkungan masyarakat,” ungkapnya.

Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deredikalisasi BNPT, Mayor Jenderal Abdul Rahman Kadir mengatakan, ada perbedaan perekrutan anggota teroris dulu dan sekarang ini. Rekruitmen dan penyebaran paham radikalisme dulu dilakukan secara tertutup melalui kekeluargaan, pertemanan, ketokohan dan lembaga keagamaan.

Namun berbeda dengan saat ini yang perekrutannya secara terbuka menggunakan internet. Bisa jadi orang yang jadi sasaran kelompok teroris hanya merasa bermain game namun tanpa sadar sebenarnya mereka sudah diajak berkomunikasi.

“Selain itu perekrutan juga lewa social messenger seperti WA, BBM, LINE dan telegram untuk sharing informasi, propaganda dan rekrutmen,” imbuhnya.(*/yve)