Rahasia agar Burung Walet Mau Bersarang

4529

KORANBERNAS.ID — Bisnis sarang burung walet di Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus berkembang. Ada puluhan orang menginvestasikan modalnya pada usaha yang menggiurkan itu.

Meski banyak yang berhasil, tetapi ada pula yang kurang berhasil. Atau bahkan gagal karena burung walet tidak mau singgah ke dalam bangunan yang sudah disiapkan.

Sebuah calon bangunan rumah burung walet terlihat sedang dibangun di wilayah Beringin Kecamatan Kapuas ketika koranbernas.id melintas di sana, Minggu (10/11/2017) siang.

Ternyata bangunan rumah burung walet tidak sederhana. Ada rahasianya. Di balik tembok itu diberi styrofoam untuk menghadirkan suasana adem. Sebab burung walet tidak mau tinggal di ruangan panas.

Menurut pekerja, ahli bangunan walet yang tengah membangun rumah walet dibantu empat pekerja itu, di dalam bangunan dibutuhkan banyak sekali kawat anti karat yang dianyam sedemikian rupa.

Mereka memborong bangunan itu senilai Rp 120 juta dengan jangka waktu sekitar dua bulan. Awalnya hanya 40 hari, tetapi ternyata tidak cukup waktu.

Sementara belanja material sekitar Rp 80 juta sehingga total investasi sekitar Rp 200 juta. Ukurannya 8 x 16 meter, empat lantai, seharga rumah tidak masuk klasifikasi mewah.

Di rumah walet itu nantinya dipasang alat pemanggil burung. Juga harus ada musik lembut untuk meninabobokkan burung agar mau tinggal dan bersarang di situ.

Baca Juga :  Sambut HUT RI, Warga Pujowinatan Gelar Tirakatan

Juga perlu alat pembuat embun buatan untuk menghadirkan suasana sejuk di rumah walet. Meski cukup rumit, namun jika berhasil maka tidak perlu waktu lama kembali modal. Saat ini harga sarang burung sekitar Rp 16 juta per kilogram.

Di Kecamatan Sosok, konon ada seorang mantan anggota DPRD memilih menjadi pengusaha sarang burung walet dan berhasil.

Setiap panen bisa puluhan kilogram. Padahal makin lama, jumlah produksi sarang makin meningkat, sepanjang habitatnya masih terpelihara.

Survai matang

Memilih lokasi rumah walet perlu survai matang. Kebetulan wilayah Beringin merupakan lintasan migrasi burung walet, sehingga dari sisi lokasi memenuhi syarat.

Banyak orang memilih bidang investasi bermula dari obrolan di warung kopi. Pasti obrolan panjang, tak hanya seminggu dua minggu.

Dibanding kelapa sawit atau merica, banyak orang memperhitungkan untung rugi sebelum menjatuhkan pilihan.

Kelapa sawit diperlukan lahan ideal lima hektar agar hasilnya bisa menghidupi keluarga. Selain lahan, juga butuh bibit, tenaga tanam, pupuk dan pemeliharaan.

Dalam jangka lima tahun, hanya mengeluarkan biaya. Pada tahun ke empat, pohon memang mulai berbunga dan berbuah.

Baru lewat tahun kelima, ada harapan bisa memanen. Bila sudah produksi, perlu pengawasan karena rentan pencurian.

Baca Juga :  Yassir Malik Kembali ke Jagad Seni Rupa

Sedang merica, pemeliharaannya cukup rumit. Pada semaian pertama, jika tidak bercabang harus dipotong. Dengan harapan bisa bercabang sehingga bisa terus menempel pada kayu penyangganya.

Itu harus dilakukan berkelanjutan, sampai buah merica mulai bermunculan. Pasca-petik pun perlu penggarapan sehingga merica layak jual.

Musuhnya ular

Memelihara walet pun bukan tanpa risiko. Kemungkinan burung tidak kerasan tinggal di rumah walet atau ada ular yang menjadi musuh utamanya. Selain itu, juga rawan pencurian, kebanyakan dengan membobol tembok.

Ada dua teori memetik sarang burung walet. Biarkan setahun baru diambil. Teori lainnya, meski baru lima ons sampai satu kilogram langsung diambil.

Tetapi hati-hati, jika telur belum menetas tapi sarang sudah diambil, burung akan terbang dan tidak akan kembali lagi. Harapan burung akan beranak pinak pun pupus.

Sarang berbentuk bulan sabit menempel di tempat bergantung itu harganya lebih mahal dibanding sarang berbentuk bundar.

Semua usaha memang punya risiko masing-masing. Tapi kalau berhasil, bisa menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan.

Semua bermula dari obrolan di kedai kopi yang banyak sekali bermunculan di Pontianak ataupun di Sanggau.  Bukan sekadar ngopi atau kongkow tapi bisa jadi tempat menimba ilmu. (sol)