Rahasia di Balik Nikmatnya Kopi Merapi

52
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Heru Saptono menggiling kopi di salah satu stan Festival Kopi Merapi 2018 di Cangkringan, Rabu (26/09/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sebagai upaya mempromosikan serta melestarikan keberadaan kopi Merapi ke masyarakat luas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Festival Kopi Merapi 2018 di Wisma Sanata Dharma Desa Pentingsari Kecamatan Cangkringan, Rabu (26/09/2018).

“Festival kopi Merapi ini merupakan upaya untuk menjembatani kepentingan petani, pemerintah, pengusaha dan masyarakat penikmat kopi. Melalui festival ini para pihak dapat saling mengenal dan berbagi, saling mengevaluasi serta membangun komitmen guna mendongkrak kualitas dan kuantitas komoditas kopi Merapi,” jelas Heru Saptono, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman.

Pada kegiatan tersebut setidaknya terdapat 30 stan menjajakan berbagai hasil produksi biji kopi Merapi yang terdiri dari 25 barista dan 5 petani. Di stan-stan itulah biji kopi diolah secara langsung dengan teknik berbeda-beda.

Baca Juga :  Saatnya Humas Gunakan Media Digital

Sejumlah pengunjung tampak antusias mengikuti proses pengolahan kopi yang dilakukan dengan teknik berbeda-beda oleh barista maupun petani. Pengunjung pun dipersilakan mencoba setiap kopi yang disajikan di masing-masing stan secara gratis.

Menurut Heru Saptono, potensi kopi Merapi dikenal cukup bagus bahkan sempat dipromosikan hingga Firlandia oleh Bupati Sleman Sri Purnomo beberapa waktu lalu dan mendapatkan respons baik dari para penikmat kopi negara tersebut.

Seperti diketahui, kopi lereng Merapi cukup khas rasanya dan masuk menu spesial di kafe-kafe. Rahasianya ternyata kopi Merapi tumbuh di tanah lapukan abu vulkanik sehingga menimbulkan cita rasa yang berbeda dari cita rasa kopi lainnya.

Heru menjelaskan, terkait dengan budi daya kopi Merapi, Pemerintah Kabupaten Sleman menyediakan bantuan berupa bibit yang akan diberikan pada musim hujan sekitar Oktober sampai November, sejumlah 8.000 bibit.

Baca Juga :  Pertama Kali, Kampus DIY Miliki SNI Corner

“Lokasi budi daya Kopi Merapi akan kita fokuskan di lereng Merapi daerah Cangkringan kemudian Kecamatan Pakem dan Kecamatan Turi,” paparnya.

Terkait pemasaran Kopi Merapi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Tri Endah Yitnani, menyebut produksi Kopi Merapi mendapatkan respons yang baik di beberapa negara.

Dia mencontohkan Firlandia dengan tingkat konsumsi masyarakatnya terhadap kopi sangat tinggi memberikan respons bagus terhadap Kopi Merapi.

“Kita benahi terlebih dahulu terkait perizinan, indikasi geografi dan paten merek-nya baru setelah itu bisa diekspor karena sudah ada permintaan dari Firlandia,” jelasnya.

Selain Firlandia, pihaknya melihat potensi lain melalui market intelligence untuk memasarkan lebih luas produk Kopi Merapi yaitu di Moscow dan Swedia. Konsumsi masyarakat di sana terhadap kopi cenderung tinggi.  (sol)