Raih Gelar Doktor Berkat Teliti Rahang Wanita Keturunan Jawa

281

KORANBERNAS.ID – Maria Goreti Widiastuti, mahasiswa Doktoral Bioteknologi minat studi rekayasa biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, berhasil meraih gelar Doktor, berkat penelitiannya tentang rahang dan bentuk wajah wanita keturunan Jawa.

Gelar itu dia sandang usai menjalani ujian terbuka promosi doktor di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (27/02/2018). Penelitian tersebut semata-mata digunakan untuk kepentingan medis.

Dokter gigi bagian bedah mulut RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ini meneliti 22 orang perempuan dengan status gigi indeks Eichner ketegori A. Penelitian dilakukan dengan pengukuran 25 ukuran linier dan 2 sudut kraniomaksilaris pada gambar virtual Standart Tesselation Languange.

Hasil penelitian menunjukkan, 95,45 persen subyek penelitian mempunyai bentuk kepala brakisefali (lebar) yang terdiri 28,57 persen ultra brakisefali, 57,14 persen hiperbraklisefali dan 14,28 persen brakisefali. Sedangkan bentuk kepala mesosefali hanya 4,54 persen.

Semua subyek peneliti  adalah wanita keturunan Jawa. Diketahui, 31,18 persen memiliki wajah leptoprosop atau muka tinggi dan sempit, terdiri 42,85 persen hiperleptoprosop dan 57,14 persen leptoprosop.

Dr Maria Goreti Widiastuti saat ujian terbuka promosi doktor di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (27/02/2018). (istimewa)

“Bentuk wajah mesoprosop atau muka sedang sekitar 36,36 persen, muka pendek atau euriprosop dan lebar sebanyak 31,18 persen,” kata Widisatuti.

Dari sisi medis, penelitian tersebut dikaitkan dengan penderita ameloblastoma mandibula atau tumor jinak yang paling serig terjadi pada rahang. “Sampai saat ini banyak yang harus menjalani tindakan radikal berupa reseksi rahang baik sebagian atau secara total,” ujarnya.

Dampak yang ditimbulkan selain hilangnya perlekatan otot-otot pengunyahan akibat defek juga akan menimbulkan gangguan fungsi estetis dan fungsi fisiologuis sehingga perlu dilakukan rekonstruksi.

Foto bersama usai ujian terbuka promosi doktor. (istimewa)

Menurut dia, pembuatan dan pemasangan pelat rekonstruksi yang tidak ada panduannya akan menyebabkan terjadinya komplikasi pasca-rekonstuksi seperti lepasnya sekrup, plate exposure, pelat patah, infeksi dan juga rasa sakit serta stres psikologis bagi pasien.

Penelitian ini, lanjut dia, dapat digunakan untuk perencanaan operasi yang memerlukan prediksi panjang tulang untuk rekonstruksi pada defek yang luas menggunakan osteocutanues fibula free flap. (sol)