Raksasa Diarak Keliling Desa Saat Perayaan Nyepi di Gunungkidul

424

KORANBERNAS.ID — Ratusan umat Hindu di Kabupaten Gunungkidul menggelar perayaan pawai Ogoh-ogoh. Terdapat dua buah replika raksasa atau buta yang diarak keliling desa, Jumat (16/03/2018) sore.

Pawai Ogoh-ogoh sendiri melambangkan perilaku manusia yang masih tamak seperti seorang buta dalam kisah pewayangan Jawa.

Arak-arakan dimulai dari Padukuhan Kaliwaru Desa Kampung Kecamatan  Ngawen dan berakhir di Jembatan Kaliwaru Desa Beji atau berjarak lebih dari dua kilometer.

Salah seorang warga setempat, Wiyono, mengatakan buta ini melambangkan sifat manusia sekarang yang masih tamak, serakah, dan keras kepala.

Selain pawai juga teaterikal menggamparkan buta saling berkelahi sebagai simbol umat Hindu yang tengah berkelahi dengan hawa nafsu maupun sifat buruk mereka selama perayaan hari raya Nyepi.

“Ini merupakan simbol melawan hawa nafsu maupun sifat buruk budi,” katanya kepada wartawan.

Ketua Perayaan Nyepi Gunungkidul, Hariyanto,  mengatakan pawai Ogoh-ogoh ini juga diikuti oleh pemeluk agama lain seperti Katolik, Islam, Kristen, Budha maupun Penganut Kepercayaan yang ada di kabupaten ini. Suasana toleransi umat beragama sangat tinggi.

“Kami juga mendapat dukungan penuh dari pemeluk agama lain di Gunungkidul. Dan inilah bukti bahwa toleransi beragama sangat tinggi,” papar Hariyanto.

Serangkaian kegiatan perayaan Nyepi mulai dilaksanakan Amati Geni atau tidak boleh menyalakan api, Amati Karya atau tidak boleh bekerja, dan Amati Lelungan atau tidak boleh berpergian. (sol)