Refresh Budaya Sinoman, Jatimulyo Dapat Apresiasi

372
Muda-mudi Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo Kulon Progo, Minggu (5/10) memperagakan tatacara sinoman. (Sri Widodo/KoranBernas.id)

KORANBERNAS.ID – Pramuladi pada perhelatan pesta di lingkungan budaya Jawa yang disebut sinoman sudah menjadi adat yang turun temurun berlangsung. Sinoman dalam budaya Jawa ketika bertugas memberikan pelayanan kepada tamu, terikat dengan unggah-ungguh yang baku. Unggah-ungguh itu sekarang sudah jarang diterapkan di masyarakat dan mulai luntur tergerus modernisasi budaya.
Di Desa Jatimulya Kecamatan Girimulyo Kulon Progo saat ini tengah me-refresh kembali budaya sinoman yang adiluhung bidang sinoman tersebut. Saat momentum Merti Desa Jatimulyo budaya sinoman disegarkan kembali. Kegiatan ini sengaja melibatkan peran besar kawula muda di desa itu.
Merti Desa yang digelar Minggu (5/10) itu, dipadukan dengan pengenalan budaya sinoman untuk memperingati hari jadi ke-70 desa yang berada di Kecamatan Girimulyo tersebut.
Kades Jatimulya Anom Sucondro menjelaskan, ratusan anak muda dari perwakilan sejumlah karang taruna dilibatkan untuk mengorganisasi acara. Di antaranya Karang Taruna Setia Mandiri, Dusun Pringtali dan Karang Taruna Among Mudho, Dusun Beteng.
“Penyiapan generasi ini wajib dilakukan, karena selain membangun daerah, anak muda adalah generasi yang diharapkan bisa menjaga budaya. Budaya itu perlu lestari, namun juga perlu berkembang. Karena sebuah kelestarian yang tidak dikembangkan, berarti membiarkannya mati di tengah jalan,” ujar Anom yang juga seorang dalang yang cukup populer di Kulon Progo itu.
Anom menjelaskan, rangkaian kegiatan acara selamatan desa dimulai dari kirab, gelar potensi budaya, bazar produk lokal, seni budaya, tirakatan. Salah satu budaya Jawa yang ditampilkan oleh anak muda setempat dan merupakan ciri khas Desa Jatimulyo adalah sinoman (tradisi menjadi pramuladi dalam budaya Jawa, yang masih mengikuti pakem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat).
“Pakem sinoman Jawa ini terlihat dari tata cara penyajian, cara berjalan, busana dan sejumlah teknik lainnya. Mereka sebelumnya dilatih oleh para senior, secara rutin dan beberapa kali menunjukkan kemampuannya dalam acara-acara di desa,” terangnya.
Kepala Bidang Seni, Adat, dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Yudhono Indriatmoko menyatakan apresiasi dinas kepada pemerintah desa. Khususnya yang mampu menggerakkan anak muda dari tiap dusun, untuk menjadi pelaksana selamatan desa.
Menurutnya, tidak semua pemimpin desa mampu melakukan hal tersebut, mengingat dalam tiap dusun di Kulon Progo, setidaknya ada 600 orang anak muda. Apalagi mampu mengajak mereka menerapkan sinoman bergaya Jawa.
Sinoman Jawa saat ini mulai terkikis, sehingga tiap-tiap desa budaya perlu untuk menggalakkan kembali tradisi tersebut. Karena sesungguhnya tradisi tidak melulu dalam hal kesenian, melainkan juga dalam melayani jamuan bagi tamu.
“Menggali potensi budaya, melestarikan dan mengembangkan budaya itu adalah tugas bersama,” tuturnya. (ros)

Baca Juga :  Bukan Rombongan Pengantin, Janur Ini Menandai Pelanggar Lalu lintas