Remaja dan Tsunami Informasi

252

BANYAK pertanyaan dan gugatan yang ditujukan pada remaja karena banyak sikap negatif yang kita dengar langsung maupun kita baca dari berbagai mass media. Tidak terhitung kasus-kasus memprihatinkan yang muncul mulai dari berita kebocoran soal UN, vandalism, seks bebas, narkoba, hingga kekerasan terhadap guru maupun teman sebaya yang berujung pada kematian. Kejadian terakhir adalah penganiayaan guru SMAN Torjun, Sampang oleh siswanya yang berujung kematian (Kompas.com 3/2/2018).

Hal ini tidak bisa hanya selesai dengan keprihatinan, hujatan, maupun tudingan bahwa remaja kita adalah satu-satunya sumber masalah. Apakah sistem pendidikan kita sudah cukup memberi pengamanan bagi para remaja ini ketika dia di sekolah? UU No 20 Tahun 2003 menyebutkan, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dengan tujuan yang sangat ideal itu, apakah di level praksis, misalnya pada fokus kurikulum, pengelolaan manajemen sekolah, guru dan sistem penilaian (baca= penghargaan) cukup mensupport para peserta didik untuk memperoleh tujuan yang mulia itu? Bagaimana orang tua sudah memberi ruang dialog yang membuat nalar mereka berjalan dan menghidupkan hati mereka, sehingga  Penguatan Pendidikan Karakter  (PPK) tidak akan hanya menjadi jargon kosong?

Tsunami Informasi

Remaja, oleh UU disebut dengan istilah peserta didik, berada pada situasi yang bisa disebut sebagai risky age. Disebut risky age karena dari segi kejiwaan dia berada pada usia yang labil. Persoalan menangkap masalah, tingkat wawasan dan cara mengidentifikasi masalah serta bagaimana menyelesaikan masalah dari gempuran (baca=tsunami) informasi yang tidak bisa dibendung ini,  akan sangat membuat mereka dalam masalah besar.

Tsunami informasi yang berseliweran dan masuk ke dalam diri remaja melalui gadget yang mereka genggam selama 24 jam, membuat mereka masuk dalam sebuah krisis identitas diri maupun krisis ideologi.

Tsunami informasi, di satu sisi bisa berpotensi menjadi kekuatan, tetapi di sisi lain bisa berpotensi menjadi tantangan bahkan pada level tertentu akan menjadi ancaman. Gadget, yang tidak lepas dari tangan remaja yang punya orientasi masa depan, akan berpotensi menjadi kekuatan. Akan berbeda dengan remaja yang tidak memiliki orientasi, gadget dengan informasi tanpa batas akan berpotensi menjadi ancaman.

Baca Juga :  Mencari Pemimpin Bervisi Budaya

Remaja, di luar dirinya, melihat dan menyerap komunitas-komunitas dari berbagai media khususnya internet melalui gadget. Komunitas ini akhirnya menjadi role-model yang mereka identifikasi sebagai panutan yang cocok. Komunitas-komunitas ini sifatnya internasional, karena terbangun tanpa batas ruang dan waktu yang  bisa berasal dari komunitas positif maupun negatif.

Dalam makna yang positif, komunitas semacam ini terhubung tanpa batas dan siapa saja bisa memperoleh akses. Pada level tertentu bisa sangat potensial untuk membangun jejaring yang bisa dimanfaatkan untuk membangun karir masa depan. Seperti mata uang, di sisi yang lain, komunitas ini bisa menjadi ancaman karena bisa berasal dari kelompok-kelompok kejahatan.  Komunitas dalam makna negatif ini tidak selalu bersifat kriminal dan hedonis, tetapi juga termasuk kelompok ideologis radikal.

Kelompok ideologis radikal memanfaatkan media internet untuk mencari pengikut dan sudah mulai masuk ke  sekolah-sekolah. Data-data para remaja yang dijadikan martir sebagai pengantin bom bunuh diri adalah remaja yang masih duduk di bangku SMA atau baru lulus SMA.

Peran Negara

Mengapa sedemikian mengerikannya dampak derasnya informasi yang berkembang pada era revolusi industri 4.0 ini? Dan bagaimana upaya-upaya menghambatnya? Lalu, bagaimana negara, lembaga pendidikan dan masyarakat bisa membuat pagar untuk menyelamatkan para remaja?

Pemerintah perlu melakukan kajian serius dengan melihat tidak mudahnya posisi remaja yang berada pada risky-age sementara di sisi lain dia harus memiliki ketahanan untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan segala dampaknya. Kurikulum yang dikembangkan haruslah kurikulum yang mampu memberi cara pandang yang tepat, bagaimana seorang pembelajar mampu menempatkan diri untuk melihat perkembangan dunia.

Pete Turner, Custumer Security Expert, Avast, mengatakan bahwa platform sosial media dan berbagai aplikasi, baik yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran maupun hiburan selalu memberi risiko intaian penjahat dunia maya (cybercriminals) (Bernas.id, 7/4/2018). Dengan demikian, sejauhmana sekolah mampu memberikan filter (pengamanan) bagi pembelajar untuk mengenali situs-situs yang membahayakan dan di satu sisi juga sekolah dapat menyiapkan mereka memiliki mental menguasai teknologi tersebut. Coba kita mengamati lebih jauh, bagaimana remaja memanfaatkan sosial media mulai dari facebook, twitter, Instagram dan yang lainnya hanya sebagai user. Apakah mereka tahu bagaimana FB, IG dan twitter dilahirkan dan oleh siapa? Seberapa jauh remaja ini mengenali tokoh-tokoh yang menjadi penyebab disruption dalam dunia transportasi maupun bisnis?

Baca Juga :  Mengkhawatirkan, Fasilitas Pendidikan Kaum Difabel!

Mari kita lihat juga para pendidik kita. Apakah mereka juga sudah disiapkan untuk menumbuhkan pembelajar yang kritis dan memiliki self-readiness menghadapi era disruption ini?   Sekolah, dengan pendidik yang tidak mampu beradaptasi pada penguasaan medan dengan membangun jejaring (net-working) dan terhubung dengan sekolah di seluruh dunia, akan melahirkan lulusan yang tidak siap menghadapi kompetisi global. Sekolah demikian dapat disamakan dengan sekolah yang terasing atau sekolah terbelakang karena menghasilkan lulusan yang gaptek dan tidak siap mental untuk menjalin komunikasi dengan pihak lain kelak.

Orang tua, masyarakat dan tokoh agama yang tidak sadar akan tsunami informasi akan membuat batasan-batasan yang justru menjadikan anak/remaja yang tidak mampu berkembang. Pembatasan tanpa nalar akan menghasilkan sikap memberontak yang menghasilkan generasi anti kemapanan sebagai anti tesis sikap ketertutupan. Memberi pendampingan yang tepat atas dasar kesadaran pentingnya bekal pada dua aspek, yaitu aspek penerimaan terhadap era teknologi informasi dan memberi cara memfilter adalah hal yang logis dilakukan saat ini.  Penerimaan berarti menyiapkan remaja menguasai teknologi informasi dan tahu cara memakainya serta tahu cara mendapat peran penting di dalamnya. Penerimaaan tanpa kompetensi akan menghasilkan generasi pengekor yang akan menjadi pengikut (follower) dan memanfaatkannya sebatas gaya hidup yang tidak sesuai dengan kekayaan budaya kita. ***

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi Minggu II Mei 2018/14 – 27 Mei 2018)