Resep Panjang Umur ala KH Saebani

331
Kiai Saebani mengisi pengajian di Masjid Al Fathonah Pugeran Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Umur dan kematian manusia adalah takdir Allah SWT. Namun ada baiknya seseorang berupaya meraih keberkahan dari umurnya yang panjang. Bagaimana cara meraih panjang umur? Catat saja resep ala Drs kh Saebani MA MPd ini. Kuncinya, perbanyak bersyukur.

“Dengan bersyukur akan bertambah sehat. Banyak penyakit yang muncul sekarang ini disebabkan karena kurang bersyukur. Contoh, sudah punya mobil tiga tapi ingin naik ambulans,” ujarnya disambut gelak tawa tatkala mengisi Pengajian Rutin Selapanan Jumat malam Sabtu di Masjid Al Fathonah komplek SDN Suryodiningratan 2 Yogyakarta, Jumat (22/09/2017).

Menurut dia, penyakit manusia modern sekarang memang aneh-aneh. Bisa saja badannya terlihat kuat dan sehat tiba-tiba saja meninggal karena jantungnya mandek. “Ada satu jenis penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya,” ungkap Saebani memancing penasaran jamaah.

Baca Juga :  Ki Sindu Usung Lakon Wahyu Cakraningrat

Setelah ditunggu-tunggu, jawabannya ternyata bukan penyakit medis melainkan penyakit mata duiten. “Mata duiten krama inggilnya netra hartana,” kata Kiai Saebani kontan disambut derai tawa.

Itu sebabnya ada orang-orang hanya bisa bergembira pada waktu-waktu tertentu saja. Saat tanggal muda grapyak namun begitu tanggal tua wajahnya mecucu.

Lebih jauh, Takmir Masjid Agung Bantul ini menyampaikan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid insyaAllah akan panjang umur. “Atine kemanthil-manthil neng masjid,” tambahnya.

Pada bagian lain, secara berkelakar Saebani mencoba mengupas fenomena terkini terkait dengan kekayaan yang diperoleh dari jalan tidak halal. Bisa jadi, ini terjadi karena kesalahan memilih dongeng. Pada masa lalu umumnya anak-anak mendengarkan dongeng menjelang tidur. Yang paling populer adalah Kancil Nyolong Timun.

Akhirnya, begitu dewasa kata yang paling diingat adalah “nyolong”. Karena itu, dongeng ini perlu diganti dengan dongeng yang bermuat pesan tolong menolong, misalnya dongeng Semut dan Burung Pipit.

Ceritanya, suatu hari ada semut kecemplung blumbang. Manuk emprit atau burung pipit yang mengetahui peristiwa itu spontan menjatuhkan daun kering. Akhirnya semut selamat karena berhasil menaiki daun tersebut, angin membawanya ke tepian kolam.

Baca Juga :  Setelah Menikah, Pengantin di Dusun Ini Wajib Tanam Pohon

Suatu ketika, ada penembak burung. Semut yang mengetahui nyawa burung pipit terancam segera menyelinap dan bersembunyi di celana pemburu itu.

“Ketika penembak membidik burung pipit, semut langsung menggigit. Tidak saya teruskan nyokot apa. Akhire le  mbedhil ora kena merga … dicokot semut,” kata Saebani lagi-lagi disambut tawa para jamaah. (sol)