Ribuan Orang Cicipi Masakan Ndeso demi Pancasila

182
Penyanyi Didi Kempot hadir dalam acara "Resepsi Wong Cilik" sekaligus ultah HM Idham Samawi ke 68 di Lapangan Petir, Desa Srimartani Piyungan Bantul,Jumat (22/06/2018) malam. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Acara “Resepsi Wong Cilik” dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila dan Ulang Tahun ke 68 anggota FPDIP DPR RI HM Idham Samawi dihadiri ribuan orang di Lapangan Petir, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Bantul, Jumat (22/06/2018) malam. Hadir dalam kesempatan tersebut Hj Ida Idham Samawi,anggota FPDIP baik dari DPRD DIY maupun DPRD Bantul.

Disediakan pula 2.000 porsi hidangan masakan tradisional ala ndeso untuk penonton yang memadati lapangan seperti lodeh kluwih,aneka oseng dan tempe garit goreng. Acara kian meriah dengan beragam pertunjukan tradisional.Dan disaat HM Idham Samawi sedang orasi mengenai Pancasila, penyanyi Didi Kempot naik ke atas pentas menyerahkan seikat bunga dan ucapan ulang tahun. Keduanya kemudian kompak menyanyikan lagi campursari “Sewu Kutho” yang kerap dinyanyikan Idham dalam beragam kesempatan.

Baca Juga :  PGRI Gondangrejo Ziarahi Makam Pejuang Guru

Hadirnya Didi Kempot mendapat aplaus meriah dari penonton yang kemudian merangsek ke depan panggung. Setelah itu lagu-lagu hits mengalun dari atas panggung seperti Pantai Klayar,Suket Teki, Banyu Langit dan karya emas Didi Kempot lainnya yang membuat ribuan penonton joged bersama. Acara ditutup dengan pentas wayang Hip Hop dengan dalang Ki Benyek Kuncoro.

“Acara hari ini kita gelar dalam rangka bulan Pancasila sehingga kita sosialisasikan,kita tanamkan kembali betapa pentingnya nilai Pancasila bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya.

Menurutnya, hanya Pancasila sebagai dasar negara yang paling cocok dan tepat bagi bangsa ini. Dasar negara lain terbukti tidak ampuh mempersatukan sebuah negara. Misalnya saja negara sebesar uni soviet saja runtuh dengan dasar negara komunis.

“Negara kita merupakan negara besar dengan beragam suku dan budaya. Hanya Pancasila yang mampu menyatukan. Maka saya melihat perlu kiranya pendidikan Pancasila ini menjadi sebuah mata pelajaran (mapel) mulai TK hingga Perguruan Tinggi (PT),” kata mantan bupati Bantul dua periode tersebut.

Baca Juga :  RSUD Sleman Kini Miliki Ruang Inap VIP dan VVIP

Seperti saat dirinya kuliah di masa lalu mendapat pelajaran tentang Pancasila selama empat semester. Untuk itulah Idham sudah menyampaikan pemikiran tersebut kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk kepada presiden untuk ditindak lanjuti.

“Untuk lima sila tidak bisa diotak atik,namun untuk penterjemahanya tentu harus disesuaikan dengan kondisi kekinian. Misal soal keadilan sosial yang bermuara pada kesejahteraan,tentu kesejahteraan di era tahun 1945 dengan tahun 2018 itu berbeda. Maka tugas pemerintah untuk menterjemahkan hal tersebut dan merealisasikanya,” ungkapnya. (yve)