Ribuan Orang Nonbar Film PKI Hingga Dini Hari

912
Ribuan orang menyaksikan pemutaran film G 30S/PKI di Lapangan Paseban, Sabtu malam hingga Minggu (30/09/2018) dini hari. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pemutaran film G 30 S/PKI yang diinisiasi organisasi masyarakat di Bantul menyedot animo ribuan orang penonton di Lapangan Paseban Bantul, Sabtu malam (29/09/2018) hingga Minggu (30/09/2018) dini hari.

Sebelumnya, elemen masyarakat  melakukan audiensi ke Komandan Kodim (Dandim) 0729/Bantul, Letkol (Inf) Yuswanto yang juga  memberikan dukungan.

“Ini bagian dari pembelajaran sejarah agar masyarakat paham dan mengetahui serta selalu waspada paham komunis yang terlarang di negara ini,” kata Dandim.

Selain nonbar di Lapangan Paseban yang digelar ormas Front Anti Komunis Indonesia (FAKI), juga ada nonbar serupa di beberapa titik lain yang digelar elemen masyarakat lainnya. Yaitu di wilayah Kasihan, Banguntapan, Pundong, Kretek dan Bambanglipuro.

Baca Juga :  Prasetiyo Juara Lomba Menulis  Artikel HUT PGRI

Pantauan koranbernas.id di Paseban, masyarakat berkumpul di lapangan untuk melihat layar tancap yang berada di sisi utara sejak sore hari sembari menikmati wahana permainan anak dan aneka jajanan seputar Lapangan Paseban.

Warga datang bersama keluarga termasuk anak-anak. Saat berlangsung nonbar penyelenggara menyediakan camilan kacang rebus dan singkong rebus serta air minum.

Para pedagang alas duduk dari plastik juga kelarisan karena banyak yang membeli alas seharga Rp 5.000 per lembar untuk duduk di lapangan rumput itu.

Pada acara yang dibuka Danramil 01/Bantul, Mayor (Inf) Sutarno tersebut juga tersedia beragam doorprize dengan cara menjawab pertanyaan seputar tragedi pengkhianatan PKI.

Penonton selain menjawab aneka pertanyaan dari panitia, terlihat juga saling ngobrol soal film yang disutradarai Arifin C Noer itu. Mereka  banyak yang bertahan hingga film usai dengan durasi sekitar empat jam.

Baca Juga :  Warna Hitam Selalu Trendi

“Saya datang bersama istri dan anak. Saya rasa film ini bagus untuk pembelajaran sejarah,” kata Agus Effendi asal Imogiri. (sol)