Ronde yang Asli Selalu “Ngangeni”

193
Wiyono, penjual wedang ronde di Malioboro. Dia masih menggunkan resep yang asli sehingga rasa ronde segar. (arie giyarto/koranbernas)

KORANBERNAS.ID — Perantau dari Yogyakarta kala pulang kampung dalam rangka Lebaran Idul Fitri, sebagian besar mengagendakan acara minum wedang ronde.

Betapa segarnya air jahe panas yang dipadu ronde, bulatan dari ketan isi kacang tumbuk itu. Apalagi ditambah kolang-kaling iris serta kacang tanah sangrai. Inilah ronde asli warisan nenek moyang.

Bagi yang suka, bisa ditambah roti tawar. Tapi ini sudah merupakan inovasi atau kreativitas. Meski tampaknya sederhana, tetapi wedang ronde selalu ngangeni dan relatif tidak mudah didapatkan di luar Yogyakarta.

“Saya mempertahankan menu yang asli sejak nenek moyang dahulu” kata Wiyono. Pria asal Ponjong Gunungkidul itu memarkir gerobak rondenya di pinggir Malioboro sisi timur, beberapa ratus langkah di selatan perempatan Terang Bulan.

Sejak jalur pedestrian itu rampung, Wiyono yang semula menjajakan ronde keliling seputaran Malioboro sejak tahun 2000, kini pilih menetap di sana.  Senyampang belum ada larangan berjualan di tempat itu, penghasilannya lebih banyak dibanding jualan keliling.

Ayah dari seorang anak ini sudah siap melayani pembeli sejak usai Ashar. Di bulan Ramadan kebanyakan pembeli datang menjelang buka puasa. Ronde akan menghangatkan perut setelah seharian kosong.

Gula Jawa

Rasa manis gula Jawa akan menyuplai kebutuhan glukosa. Pembeli menikmatinya dengan santai seraya duduk di bangku-bangku panjang Malioboro atau bola-bola dari semen.

Baca Juga :  Pesta Rakyat Pelantikan Gubernur Bukan Hura-hura

“Ada penjual yang menambahkan susu kental manis pada rondenya. Tapi saya tidak mau. Selain ronde akan sangat manis dan berubah warna menjadi keruh, menurut saya rasa asli rondenya jadi bubrah. Tapi banyak juga yang suka,” katanya kepada Koran Bernas di tempat mangkal, Rabu (23/5), usai azan Maghrib.

Bahkan kalau kebetulan tidak dapat kolang-kaling pun, Wiyono berani memutuskan untuk tidak berjualan. Alasannya? Dia belum siap mengganti kolang-kaling dengan nata decoco seperti yang dilakukan beberapa rekannya. Rasanya tetap beda.

Dulu, selain ronde Wiyono kadang-kadang menyelingi dagangannya dengan jagung dan kacang rebus. Tetapi hal itu sudah tidak dilakukannya lagi berhubung harga jagung manis mentah saat ini mahal, tidak terjangkau kantong pembeli jagung  yang rata-rata kelas menengah ke bawah. Bila menaikkan harga sudah tidak mungkin. Mending dia menekuni minuman rondenya.

Setiap hari dia mampu menghabiskan dua toples ronde plus kolang-kaling, kacang sangrai dan roti tawar. Kalau pun dagangannya tidak habis, Wiyono membagikan sisanya kepada teman-teman sesama penjual keliling yang dijumpainya. Atau, kadang-kadang di poskamling.

Baca Juga :  Polres Kulonprogo Dijaga Berlapis Tiga

“Kalau tidak ya terpaksa dibuang,” ujarnya. Dia ingin mempertahankan kualitas dagangannya. Jangan sampai ronde yang dia jual wayu dan membuat pelanggan kecewa.

Dari usaha ini tata-rata Wiyono bisa menghasilkan keuntungan sekitar Rp 100.000. Tapi ini harus ditebus dengan kerja panjang. Mulai pagi dia mengupas jahe, membuat ronde, merebus kuahnya dan pekerjaan lainnya.

Kemudian mendorong gerobak ronde dari rumah kontrakannya di Purwokinanti Pakualaman sampai Malioboro, kemudian menungguinya rata-rata sampai tengah malam.

Meski berjualan di Malioboro, namun jangan khawatir Anda harus membayar harga tinggi. Wiyono tetap memasang harga Rp 7.000 per mangkuknya. Ronde asli yang nikmat rasanya.

Ya Alhamdulillah. Yang penting bisa untuk menopang hidup sehari-hari, bayar kontrak rumah, bayar sekolah anak, untuk hidup bermasyarakat. Syukur masih bisa menabung,” katanya penuh harap.

Selain dari ronde, istrinya juga mendukung ekonomi keluarga dengan bekerja pada penjual aksesoris di Beringharjo.

Bulan-bulan mendatang ini Wiyono harus lebih prihatin lagi. Selain untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, dia juga harus menyiapkan dana masuk SMA bagi anak semata wayangnya yang kini kelas 9 SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta. Tetapi dia yakin, Allah Maha Pengasih serta Maha Penyayang. (ato)