RSUD Wates Sandang Predikat Bebas Korupsi

115
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dan Dirut RSUD Wates Lies Indriyati menyapa pasien. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates yang digadang-gadang menjadi rumah sakit berstandar internasional, baru saja diakreditasi. Hasilnya, rumah sakit tersebut dinyatakan sebagai rumah sakit bebas korupsi.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo seusai menjadi inspektur upacara Hari Bhakti RSUD Wates, Senin (26/02/2018) mengatakan, setelah menyandang predikat itu maka kualitas pelayanan harus semakin ditingkatkan.

“Kalau saya membandingkan dengan rumah sakit lain yang sejenis pelayanan RSUD Wates nilainya 70. Tetapi harapan saya bisa meningkat lagi menjadi 80 agar dapat memuaskan masyarakat,”  ujarnya.

Baginya, pelayanan yang baik adalah nomor utama. “Hal yang sangat penting bagi rumah sakit adalah pelayanan yang memuaskan. Kalau pasien sembuh itu yang menyembuhkan Allah. Tugas rumah sakit melayani sebaik-baiknya sesuai SOP yang standar dan membuat puas masyarakat,”  papar bupati yang juga seorang dokter itu.

Baca Juga :  Salatiga Hujan Abu

Menurut dia, masih banyak yang harus ditingkatkan, salah satunya lip service. Artinya, komunikasi dengan pasien atau keluarganya harus dibangun.

“Contoh saja, bila ada pasien akan dioperasi namun harus menunggu darah, bisa dituduh menelantarkan pasien bila tidak ada penjelasan. Dengan komunikasi yang baik diharapkan pasien akan mengerti dan puas,”  ujarnya.

Untuk menjadi rumah sakit berstandar internasional, pemerintah mengucurkan dana sangat besar. “DPRD DIY menyetujui memberi dana Rp 400 miliar ke RSUD Wates selama tiga tahun. Untuk bangunan fisik Rp 270 miliar dan peralatan Rp 140 miliar,”  katanya.

Begitu gedung jadi, langsung beroperasi dilengkapi peralatan beserta tenaga dokter spesialis. “Tidak usah menunggu gedung jadi. Bertahap dan jalan terus saja seperti di Rumah Sakit Nyi Ageng Serang Sentolo,” tambah Hasto Wardoyo.

Baca Juga :  Siap-Siap, Sleman Bangun 13 Perumahan Baru

Dirut RSUD Wates Lies Indriyati menjelaskan, dana bantuan Pemda DIY digunakan untuk membangun gedung berlantai empat. Yaitu, untuk medical center dan gedung rawat inap.

Di rumah sakit ini terdapat 721 personel SDM, 51 persennya tenaga BLUD yang sepenuhnya menjadi tanggungan rumah sakit. Sementara untuk menuju rumah sakit berstandar internasional perlu biaya besar. Maka, harus ada sistem manajemen keuangan yang efisien.

Guna melengkapi pelayanan medis, RSUD Wates bekerja sama dengan UGM serta menjadi bagian dari rumah sakit pendidikan. Saat ini sedang dicoba pelayanan klinik sore. (sol)