Rumah Batik Handel Kauman Tinggal Kenangan

194
Pengunjung mengamati foto-foto dokumentasi saat pameran di Ndalem Pengulon Kauman Yogyakarta, Rabu (01/08/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Kawasan Kauman yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Keraton Yogyakarta ternyata sampai saat ini belum ditetapkan oleh pemerintah sebagai Kawasan Cagar Budaya atau KCB.

Padahal, di kampung ini tersimpan banyak catatan sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari Yogyakarta sebagai Kota Budaya. Selain itu, dari kampung ini pula lahir organisasi besar Muhammadiyah yang kemudian mendunia.

Belum lagi, banyak terdapat bangunan Rumah Batik Handel (Pengusaha Batik). Namun sayangnya semua itu tinggal kenangan.

Merasa peduli dengan kondisi tersebut, Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) kemudian melakukan penelitian, pendataan dan pendokumentasian kampung tersebut. Kali ini, UII bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS) dan Universitas Malaya (UM), dengan dukungan dari NUS-Tun Tan Ceng Lock Research Center di Malaka. “Field School ini dilaksanakan pada 9-13 Juli 2018 dan diakhiri dengan pameran,” ungkap Arif Budi Sholihah ST MSc Ph D, Dosen Jurusan Arsitektur UII.

Adapun pameran berlangsung Rabu (01/08/2018) di Ndalem Pengulon di lingkungan Masjid Gedhe Kauman. “Pameran ini merupakan hasil dari kegiatan Field School yang merupakan hasil dokumentasi kawasan Kauman dan heritage dalam Cultural Mapping,” tambah Arif.

Peserta Field School mengikuti sesi foto bersama di sela-sela pameran di Ndalem Pengulon Kauman Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Hasil dari pemetaan itu kemudian digunakan menyusun Design Guidelines perancanangan kawasan Kauman di masa mendatang yang berbasis Sense of Place (Jiwa Suatu Tempat) beserta heritage yang ada di dalamnya.

Pada pameran kali ini juga disajikan hasil-hasil rancangan untuk beberapa spot di Kauman yang dirasa penting untuk peningkatan kualitas binaan di kawasan ini, di antaranya Adaptive Re-Use Ndalem Pengulon, Infill Design Rumah H Badjuri dan juga Konservasi Kawasan Makam Nyai Ahmad Dahlan menjadi taman terbuka hijau atau green public garden. Selama ini makam Nyai Ahmad Dahlan, pahlawan nasional itu, terkesan  tidak terawat.

Lebih jauh Arif Budi Sholihah menyampaikan ditampilkan pula hasil pendokumentasian bangunan heritage Rumah Batik Handel HM Moech. Ini dilakukan secara terukur dan menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dan masyarakat, mengenai pentingnya pendokumentasian bangunan heritage sehingga dapat  dipelajari oleh generasi berikutnya.

Seperti diketahui, kawasan Kauman dulunya pernah menjadi sentra batik terkenal di era 1920-1970-an. H Bilal merupakan salah seorang pengusaha batik terkenal kala itu yang memiliki 700 pembatik.

“Namun sayangnya kini sentra batik Kauman telah mati. Kegiatan membatik di rumah-rumah Batik Handel itu pun hanya tinggal kenangan,” ungkapnya.

Arif Budi Sholihah ST MSc Ph D (kiri) menyampaikan keterangan pers. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dia mengakui, heritage lebih dari sekadar bangunan kuno namun juga peninggalan yang memiliki nilai penting masa silam dan sangat penting untuk dilestarikan hingga mampu bertahan dan tetap relevan dengan dinamika zaman di masa mendatang.

Kauman dipilih untuk dikaji secara mendalam, dalam waktu singkat, karena kawasan ini memiliki nilai sejarah, budaya dan keagamaan yang tinggi. Selain itu, juga memiliki bangunan dan lingkungan bersejarah dengan karakter khas yang hidup dan dinamis dalam jangka waktu panjang.

Mestinya, lanjut dia, ada gayung bersambut dari pemerintah. Untuk itu, hasil dari kegiatan ini akan diserahkan ke pihak pemerintah daerah, pemilik rumah maupun masyarakat Kauman secara umum. Melalui pendalaman secara akademis selanjutnya dijadikan publikasi internasional yang didistribusikan secara meluas. (sol)