Salut, 65 Persen Lansia Masih Produktif

280

KORANBERNAS.ID — Menyandang predikat lanjut usia (Lansia) seakan-akan memberi kesan sudah tidak bisa apa-apa lagi. Padahal, hasil kajian menunjukkan 65 persen lansia di DIY masih produktif.

Masalahnya ternyata sebagian besar lansia tetap bekerja karena desakan faktor ekonomi agar bisa menghidupi diri sendiri, bahkan bisa membantu anak cucunya. Hanya sebagian kecil yang tetap bekerja karena ingin tetap bias mengaktualisasi diri.

Masalah kedua, apakah mereka dalam kondisi sehat? Ini karena menyikapi rasa sakit antara lansia kaya dan miskin berbeda. Lansia kaya cenderung langsung mencari tempat pelayanan kesehatan ketika dia mulai tidak enak badan. Sedangkan lansia miskin cenderung menunggu sampai rasa sakitnya sudah sangat mengganggu, baru kemudian berobat.

Hal itu terungkap pada Seminar Hasil Kajian Kependudukan tentang Remaja dan Usia Lanjut yang digelar BKKBN DIY bersama partner, di West Lake Sleman, Senin (31/10/2017).

Tampil sebagai narasumber Dr Umi Listyaningsih SSI MSi dari Koalisi Kependudukan DIY serta Caraka Purna Bhakti SPd MPd dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

DIY sebagai daerah dengan angka harapan hidup (AHH) tertinggi di Indonesia, semakin AHH-nya ditingkatkan mau tidak mau akan berkembang menjadi kota tua yang artinya kota berpenghuni para lansia.

Sebaliknya, akibat globalisasi remaja banyak mengalami perubahan kehidupan sosial dan budaya budaya. Sembilan  jam waktunya habis untuk gadget. Remaja  menjadi acuh pada lingkungan bahkan keluarga sendiri tetapi lebih agresif terhadap sebayanya.

Dahulu moral remaja Indonesia bisa diacungi jempol. Dilihat dari tata krama, sopan santun dan bahasanya. Tetapi kini moral atau perilaku  remaja di Indonesia  memprihatinkan. Perilaku menyimpang remaja kian marak terjadi.

Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan peran  keluarga yang bisa mengendalikannya guna menanamkan karakter anak dan remaja. Supaya remaja bisa lebih memanfaatkan gadget untuk hal-hal positif daripada mudarat.

Harus diakui, konten-konten yang bisa dilihat sangat menggiurkan. Ini justru bisa merusak pikiran para remaja dan dampaknya sudah mulai dirasakan.

Keluarga berketahanan         

Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Pusat H Nojrizal SP MA dalam sambutan tertulis dibacakan Direktur Analisis Dampak Kependudukan Dra Hitima Wardhani MPH menyatakan,  keluarga berketahanan akan mampu nenepis pengaruh negatif dari luar.

Selain itu, juga mampu melaksanakan fungsi-fungsi keluarga yang dapat menjadi landasan mewujudkan keluarga sejahtera sekaligus benteng terkuat menangkal pengaruh negatif.

Hitima kepada koranbernas.id  menyatakan  DIY sudah hebat menangani program lansia.  Banyak sekali kelompok lansia mandiri dengan berbagai kegiatan positif menggunakan dana swadaya. Hanya saja belum diformulasikan secara tepat sehingga bisa menjadi acuan yang lain.

Hitima berharap dari seminar ini bisa dirumuskan secara mengerucut program-program yang bisa menjadi acuan pemerintah daerah dalam menangani masalah ini. Sehingga, remajanya kreatif, lansianya produktif mengisi hari-hari tua. (sol)