Sampah Plastik Ini Diubah Jadi BBM

620
Dr Zahrul Mufrodi MT, Dosen Teknik Kimia UAD memperlihatkan alat pengubah sampah plastik jadi BBM di kampus setempat, Senin (20/11/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sampah plastik sudah jadi persoalan serius yang dihadapi masyarakat pada saat ini. Penggunaan plastik pun semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Konsumsi plastik di Indonesia bahkan diperkirakan sudah mencapai 10 kg per kapita per tahun yang berdampak pada tingginya sampah plastik. Fleksibilitas, ringan, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai serta sifat isolasinya yang cukup baik membuat plastik tetap jadi primadona.

Padahal berbagai upaya pengurangan pemanfaatan plastik terus dilakukan. Namun sampah plastik tetap saja menumpuk. Sulitnya sampah plastik terurai di tanah pada akhirnya mengakibatkan persoalan lain yang butuh penanganan mendesak karena penguraian plastik membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Dr Zahrul Mufrodi MT, Dosen Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mencoba mencari solusi penanganan sampah plastik. Diantaranya melalui penelitian untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

“Bahan plastik memiliki kandungan energi yang tinggi, maka potensi pemanfaatannya sebagai salah satu sumber energi memiliki prospek yang cukup bagus di masa mendatang,” papar Zahrul di kampus III UAD, Senin (20/11/2017).

Baca Juga :  Kasus Novel Jangan Sampai Jadi “Munir Kedua”

Doktor yang meraih gelarnya di Teknik Kimia UGM ini menyebutkan, dia mengubah plastik menjadi bahan bakar dengan menggunakan prinsip pirolisis. Sampah plastik dipanaskan sampai suhu 500 derajat Celcius sehingga fasenya berubah menjadi gas dan terjadi proses perengkahan (cracking).

Gas yang dihasilkan kemudian dikondensasikan untuk mendapatkan minyak plastik. Alat pirolisis yang dibuat dilengkapi dengan pengontrol suhu, pengukur tekanan dan kondensasi bertingkat sehingga didapatkan degradasi hasil yang berbeda.

Hasil bahan bakar minyak dengan titik kondensasi yang lebih rendah itu mempunyai spesifikasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan titik kondensasi yang lebih tinggi.

“Penelitian ini masih berlanjut dengan pembuatan katalis berbahan dasar lokal untuk dicampurkan dalam reaktor pirolisis sehingga didapatkan hasil minyak plastik yang lebih baik,” jelasnya.

Jenis plastik yang bisa diubah menjadi BBM, lanjut Kepala Pusat Studi Energi dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna UAD tersebut berupa polypropylene (PP), polystyrene (PS), high density polyethyrene (HDPE) dan low density polyethyrene (LDPE). Plastik jenis PP banyak diperoleh pada komponen otomotif, tempat makanan dan minuman.

Baca Juga :  Baku Dorong Warnai Pemagaran Calon Lokasi Bandara

Jenis PS banyak didapatkan dari bekas kemasan mainan dan peralatan medis. Jenis HDPE sering digunakan untuk kemasan makanan, sampo dan sabun. LDPE biasa digunakan untuk kemasan makanan dan minuman dengan kontur lebih lembek.

Bahan Bakar Minyak yang dihasilkan dari limbah plastik memiliki spesifikasi sifat fisis setara dengan solar dan premium. Sedang uji kalori minyak plastik ini mencapai lebih dari 10 ribu kalori/gram.

“Plastik 20 kilogram jika dipirolisis akan menghasilkan listrik sebesar 2,5 kilowatt,” ujarnya.

Hasil penemuan Zahrul tersebut memiliki dua manfaat bagi masyarakat. Sampah plastik yang diolah bisa menghasilkan energi terbarukan.

“Selain itu sampah yang sulit diurai bisa berkurang dan akan membuat lingkungan menjadi bersih,” imbuhnya.(yve)