Sampai Jogja Kopi Papua Mahal Harganya

291
Pemilik kedai menyangrai biji kopi produksi Pegunungan Bintang Papua. Aromanya  dibawa angin menyebar di halaman Balai Kota Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kopi memang sedang naik daun. Iklan di sejumlah stasiun televisi maupun di media massa cetak dan online menjadi salah satu faktor pendukung.

Kedai-kedai kopi bermunculan bak cendawan di musim hujan, mulai dari kecil, menengah hingga besar dengan layanan prima, termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Rina dari Komunitas Kopi Nusantara menjawab pertanyaan koranbernas.id menyatakan, komunitasnya sudah memiliki sekitar 230 anggota. Dari jumlah itu sekitar 200 adalah pemilik kedai kopi.

Selebihnya terdiri pemerhati, peneliti termasuk dari kalangan akademisi. Ditemui di arena gelar potensi pertanian Kota Yogyakarta Jumat (13/04/2018), Rina tengah berada di stan Kopi Papua.

“Kali ini kami memang menggandeng pengusaha kopi Papua di Yogya. Produk kopinya dari Pegunungan Bintang Papua,” katanya.

Di arena tersebut pengunjung bisa melihat mulai biji kopi dijemur, kemudian disangrai dan dihaluskan sehingga harum aroma kopi menebar ke mana-mana. Kemudian diramu dan dihidangkan. Secangkir harganya Rp 10.000, menurut pengamat kopi rasanya nikmat.

Rina menjelaskan ini harga sosialisasi agar masyarakat luas bisa mencicipi. Karena kopi Papua memang mahal begitu sampai di Jogja.

Masalahnya untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan di Bukit Bintang harus pakai helikopter. Itu pun prioritas utamanya mengangkut penumpang. Selebihnya baru barang. Medannya memang sangat sulit.

Baca Juga :  Gandung Siap Lepas Baju Pimpin Demo

Belakangan disiasati, kopi Pegunungan Bintang diangkut dan dikumpulkan di Jayapura. Begitu mencapai berat tertentu diangkut ke berbagai kota termasuk Yogyakarta. Biayanya  jadi tidak begitu mahal.

Stand Kopi Papua, Pegunungan Bintang. (arie giyarto/koranbernas.id)

Beda rasa

Cita rasa kopi memang berbeda-beda. Kopi dataran tinggi beda rasa dengan kopi dataran rendah. Pengaruh iklim, lingkungan, geografi, struktur tanah, bahkan termasuk jenis-jenis tanaman yang ada di sekitarnya pun bisa berpengaruh.

Pada dasarnya kopi mampu menyerap bebauan yang ada di dekatnya. Itulah makanya menjadi kebiasaan orang menaruh kopi di bawah keranda jenazah untuk menetralisir bau.

Sama-sama dari dataran tinggi, kopi Pegunungan Bintang beda rasa dengan kopi Aceh, di mana banyak tumbuh atau ditanam pohon ganja. Aroma bisa terkontaminasi dengan bau yang dominan di sekitarnya.

Cara meramu kopi pun bisa menghasilkan rasa berbeda. Menurut Rina banyak orang salah saat proses penyajian. Menyeduh kopi hendaknya bukan dengan air mendidih langsung dicampurkan pada kopi. Tetapi seyogianya didiamkan beberapa saat baru disedu. Hasilnya akan berbeda.

Di DIY yang terkenal Kopi Suroloyo Kulonprogo dan Kopi Merapi. Keduanya diterima oleh pasar. Pesanan melimpah ruah dalam hitungan ton. Namun karena jumlah yang tersedia tidak mencukupi akhirnya peluang itu berlalu. Paling bisa menyediakan dalam hitungan kuintal.

Baca Juga :  Di tangan Anak-anak, Barang Bekas Jadi Karya

Arahnya adalah memperluas lahan tanaman kopi menjadi salah satu solusi agar petani mampu menikmati harumnya aroma kopi.

Rina dari Komunitas Kopi Nusantara. (arie giyarto/koranbernas.id)

Komunitas Kopi Nusantara cenderung merangkul petani maupun pemilik kedai kopi kecil-kecil yang relatif masih menghadapi banyak kendala. Di antaranya melalui pameran-pameran dan sosialisasi.

Ada juga festival kopi dua kali dalam setahun. Yakni Prawiro Coffee Festival di sebuah kedai kopi di Prawirotaman sebagai salah satu kampung turis di Yogya, serta Malioboro Coffee Night sebagai pusat tujuan wisata di jantung Kota Yogya.

Menurut Rina, kopi tidak harus mahal dan petani harus benar-benar bisa menikmati hasil di balik ingar bingar bisnis kopi.

Mau Kopi Joooss yang diberi bara arang atau kopi Klothok, tergantung pemilik kedai memberi nama menarik untuk memikat para pembeli.

Yang penting kedai kecil-kecil mampu terangkat. Jangan cuma yang gede saja yang menikmati bisnis kopi dengan dasar rasa pahit, tetapi menjadi manis saat hasil mengalir ke kantong pengusaha. (sol)